BERITA INDEX BERITA

Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (3)

Jejak | DiLihat : 1326 | Senin, 27 Juli 2020 | 10:15
Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (3)

PERTANIAN adalah manifestasi kebudayaan/peradaban manusia yang keberadaannya dewasa ini tidak lepas dari sejarah perkembangan kebudayaan/peradaban manusia sejak zaman purbakala. Perkembangan pertanian sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia.

Ada baiknya kita mengenal beberapa model pertanian yang berhubungan dengan sejarah manusia. Peradaban kuno Mesopotamia melahirkan kebudayaan yang mempengaruhi kemajuan yang pesat di bidang pertanian kuno. Pada saat itu ekonomi kota berkembang dengan berlandaskan teknologi pertanian yang berkiblat pada kuil-kuil sebagai pusat kekuasaan. Surplus yang terjadi telah menciptakan lembaga ekonomi dan mengembangkan sistem administrasi dan akuntansi yang didukung oleh terciptanya tulisan-tulisan yang merupakan awal kebudayaan.

Pengaruh perkembangan pertanian yang menciptakan surplus tersebut merembes ke Siria, Mesir, India, dan Cina. Komoditas yang diusahakan ketika itu antara lain gandum, barlai, kurma, zaitun, dan anggur. Kebudayaan kuno dari Mesopotamia, Sumeria, Babilonia, Asiria, Chaldea, telah merangsang perkembangan pertanian yang lebih kompleks dengan penggunaan teras-teras dan saluran irigasi.

Reruntuhan menunjukkan sisa teras-teras, taman-taman dan kebun-kebun yang beririgasi. Empat ribu tahun yang lalu saluran irigasi dari bata dengan sambungan beraspal membantu mengairi areal seluas 10.000 mil persegi tetap ditanami untuk memberi pangan penduduknya. Pada tahun 700 SM sudah dikenal 900 tanaman.

Mesir kuno mengembangkan sistem drainase dan irigasi yang efektif serta mengembangkan alat pengolahan tanah berupa bajak kuno yang ditarik oleh tenaga manusia dan juga mengembangkan arit sebagai alat pemotong pada saat panen. Di sepanjang sungai Nil diciptakan kebun-kebun luas, penuh dengan tanaman-tanaman hias eksotik dan kolam-kolam berisi ikan dan teratai. Di kebun buah (orchards), kurma, anggur, ara, lemon dan delima diusahakan. Kebun sayur berisi mentimun, andewi, lobak, dan berbagai labu.

Pada saat yang bersamaan berkembang pula teknologi penyimpanan dan pengolahan pangan termasuk fermentasi, pembuatan acar, pengeringan, pengasapan dan pemberian garam; suatu kemajuan yang lebih merangsang berkembangnya budidaya beragam komoditas pangan. Kebudayaan Mesir kuno tersebut menyebar ke Yunani dan kemudian diserap oleh bangsa Romawi.

Walaupun orang Yunani hanya sedikit menambahkan kemahiran praktik, sikap analitik dan keingintahuannya terhadap alam dan benda memberi pengaruh besar pada kemajuan teknologi di masa mendatang. Dua buah tulisan terkenal History of Plants dan Causes of Plants dari Theophratus murid Aristoteles mempengaruhi Ilmu Botani hingga abad 17. Tulisan tersebut mencakup morfologi, klasifikasi, pembiakan dengan biji dan secara vegetatif, geografi tumbuhan, kehutanan, hortikultur, farmakologi, hama, bau dan rasa tanaman.

Kebudayaan Yunani itulah yang diserap oleh bangsa Romawi. Kekaisaran Romawi dibangun dari dasar sumber alam yang kokoh dan kuat. Bangsa Romawi sangat tertarik pada aspek praktis dari pertanian. Pertanian merupakan bagian yang sangat penting dari ekonomi bangsa Romawi. Sumber penghasilan utama dari kekaisaran Romawi adalah pajak tanah yang diatur oleh undang-undang dan rencana agraria yang matang.

Praktik pertanian Romawi dibukukan dengan baik. Tulisan mengenai pertanian adalah De agriculturakarangan Marcus Porceus Cato (234 –149 SM ), yang menulis aspek-aspek praktis dari pengelolaan tanaman dan ternak. Dalam kebudayaan Romawi telah berkembang teknik penyambungan (grafting dan budding), penggunaan pupuk kandang, pengembalian kesuburan tanah, penyimpanan dingin untuk buah-buahan dan rumah kaca dari mika untuk menanam sayuran pada musim dingin.

Pada abad pertengahan, runtuhnya kekaisaran Romawi dan invasi negara Barat mendorong teknologi budidaya merambat ke Timur Dekat dan Timur Jauh. Berkebun merupakan bagian integral dari kehidupan biara, yang dapat mendatangkan pangan, anggur, dan obat-obatan. Timbulnya kebudayaan Islam telah menjadi penguat keberadaan teknologi budidaya pertanian tersebut, yang kemudian berkembang lebih pesat pada zaman kebangkitan kembali bangsa –bangsa Eropa. Tanaman tebu yang berasal dari Asia Timur tidaklah umum digunakan di Eropa hingga diperkenalkan oleh orang-orang Arab ke Palestina, Sisilia, Spanyol dan kepulauan Yunani. Kedelai merupakan tanaman yang paling baru dari daftar tanaman yang diperkenalkan dari Timur Jauh.

Salah satu penemuan penting yang dibawa dari Timur adalah kendali kuda yang efisien yang tidak mencekik kuda waktu ditarik kuat. Kejayaan Timurlah yang memikat orang-orang Eropa mencari jalan ke Timur yang akhirnya menemukan benua-benua baru dan diikuti tanaman-tanaman baru.

Penemuan Dunia Baru (benua Amerika) menimbulkan harapan-harapan besar di Eropa. Bahan-bahan pangan ditemui dalam bentuk tanaman asing dan istimewa antara lain: jagung, kentang, tomat, ubijalar, labu, kacang tanah, buncis, alpukat, jambu mete, nenas, coklat, panili, lada, cabai, kina, kakao, karet dan tembakau.

Perubahan keadaan pertanian pada abad ke 17 dan 18 di Eropa dimulai dengan runtuhnya sistem feodal yang berbarengan dengan tumbuhnya kota-kota dan munculnya negara nasionalis yang kuat. Kenaikan populasi dari kota-kota dan perluasan perdagangan serta sistem keuangan juga telah menarik berkembangnya ekonomi pedesaan. Industri-industri baru telah menciptakan pasar untuk tanaman-tanaman industri seperti tebu, rosela, linen, tanaman minyak dan tanaman zat pewarna.

Perbaikan sistem pertanian di Eropa diikuti secara cepat oleh Amerika Serikat, terutama di bidang mekanisasi. Alat pemanen yang sekarang umumnya dipakai, awalnya diciptakan oleh Mc Gormick di Virginia pada tahun 1831. Kekurangan tenaga kerja dan harga serealia yang tinggi pada zaman perang saudara telah mempercepat pengembangan dan adopsi alat mesin pertanian. Hal ini telah menjadikan Amerika Serikat sebagai pusat pengembangan mekanisasi pertanian yang telah menjadi landasan pengembangan sistem pertanian secara modern.

Perkembangan ilmu pertanian terapan yang pesat di negara maju telah menyebabkan terjadinya perbedaan yang makin besar dengan negara-negara sedang berkembang di dalam kemampuan memberi makan penduduknya. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan antara kenaikan efisiensi teknologi pertanian dengan kenaikan jumlah penduduk.

Di Amerika Serikat, pada tahun 1910, setiap petani mampu menghasilkan untuk dirinya sendiri dan tujuh orang lain. Kemampuan ini berkembang dengan pesat, yaitu pada tahun 1967 setiap petani dapat menyongkong 40 orang lainnya. Besarnya peningkatan kemampuan tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan efisiensi tenaga kerja akibat perbaikan teknologi. Hal ini berujung pada melimpahnya surplus dengan harga relatif murah.

Keadaan ini berlainan dengan keadaan di negara sedang berkembang yang kecukupan produksi belum tercapai dan masih banyak limbah hasil pertanian belum dimanfaatkan karena teknologi belum berkembang sepesat negara maju. teknologi baru dalam pertanian, yang ada pada awalnya berkembang secara perlahan, menunjukkan pengaruh nyata sejak tahun 1930-an.

Pada tahun 1880 –1920 peningkatan produksi yang sangat mengesankan di Amerika Serikat terjadi karena peningkatan pembiayaan (belanja) untuk tanah dan tenaga kerja. Kemudian tahun-tahun berikutnya pengeluaran bagi kedua aspek tersebut menurun sangat cepat.

Penggantian tenaga hewan oleh tenaga mesin pada tahun 1920-an merupakan langkah utama dalam revolusi teknologi di abad 20. Di samping itu, penggunaan penemuan-penemuan Mendel di dalam pemuliaan tanaman menciptakan varietas-varietas unggul baru dengan produktivitas tinggi.

Pada tahun 1940-an, penemuan-penemuan agrokemikalia dalam bentuk herbisida, fungisida dan insektisida organik, telah memberikan hasil komersial yang gemilang di bidang pertanian. Penemuan ini telah dapat meningkatkan produksi per satuan luas, sekaligus meningkatkan efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja. Kemajuan selanjutnya terjadi karena adanya perbaikan sistem irigasi dan penggunaan pupuk secara ekonomi. Kemudian sejak tahun 1950-an banyak kemajuan yang dihasilkan sebagai akibat penelitian-penelitian dasar. (edi kusmiadi/bersambung)


Scroll to top