BERITA INDEX BERITA

Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (2)

Jejak | DiLihat : 1264 | Minggu, 26 Juli 2020 | 09:51
Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (2)

PENEMUAN api dan perkembangan pertanian merupakan dua inovasi yang membentuk dasar kebudayaan. Api merupakan landasan dari eksistensi kita dan sukarlah membayangkan manusia tanpa api.

Penggunaan api oleh manusia tidak hanya menandai awal kehidupan sosial tetapi akhirnya melahirkan serentetan teknologiyang saling berhubungan. Hasil langsung dari adanya api yang paling penting adalah pemanfaatan persediaan pangan menjadi lebih luas, karena sejumlah pangan adalah tak termakan (unedible), tidak enak rasanya (unpalatable) atau tidak sehat kalau tidak dimasak dulu.

Perkembangan setiap masyarakat secara berkesinambungan bersendi pada ketersediaan suatu sumber pangan yang cukup. Pada masyarakat primitif yang bersendi pada pengumpulan pangan atau perburuan, setiap individu harus terlibat secara total dengan kepastian ketersediaan sumber pangan.

Keberlimpahan hanyalah bersifat sementara dan merupakan kekecualian. Pemecahan masalah ini terjadi dengan penciptaan suatu rentetan teknologi yang berhubungan dan kompleks, mencakup hubungan yang serasi antara tanaman pertanian dan ternak, yaitu perkembangan pertanian.

Sejarah perkembangan pertanian secara relatif merupakan inovasi yang belum lama berselang bila dibanding dengan sejarah manusia, karena manusia semula dalam masa yang lama hanya bertindak sebagai pengumpul makanan. Produksi pangan yang pertama dengan penanaman dan pembudidayaan yang sesungguhnya baru terjadi pada 7.000-10.000 tahun yang silam (pada zaman Neolitik).

Di dunia, pertanian nampaknya berkembang secara sendiri-sendiri, pada waktu yang jauh terpisah pada beberapa tempat berlainan.Perkembangan pertanian lambat laun membawa keberuntungan dan surplus pangan yang meyakinkan. Keadaan surplus demikian dapat membebaskan beberapa orang yang trampil dengan keahlian lain dari tugas memproduksi pangan.

Perkembangan keahlian baru hanyalah mungkin bila kenaikan efisiensi pertanian mengizinkan penggunaan waktu-waktu senggang yang baru diperoleh. Hingga kini, keadaan ini masih berlaku. Hasil akhir pada kenaikan taraf hidup ditandai dari hal –ihwal yang dulu dianggap sebagai suatu kemewahan akhirnya telah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Asal-usul kebudayaan dapat ditelusur pada penemuan bahwa persediaan pangan berlebihan dapat tercapai dengan penanaman biji atau bagian-bagian tanaman. Tanaman-tanaman yang cepat tumbuh dan menghasilkan dalam semusim mungkin merupakan tanaman yang pertama kali diusahakan. Teknologi yang menyangkut budidaya tanaman berumur panjang seperti pohon buah-buahan, memakan waktu dan menuntut teknologi lebih tinggi, karenanya pada masa itu buah-buahan hanya dipanen dari tanaman liar.

Secara praktis, setiap tanaman telah dikembangkan pada zaman prasejarah. Pengembangan tanaman ini dicapai dengan dua cara yang berbeda: 1) penjinakan (domestication), yaitu dengan membawa beberapa spesies liar ke dalam budidaya atau pengelolaan, dan 2) seleksi (selection), yaitu penangkaran yang berbeda-beda dari spesies tersebut.

Manusia primitif menunjukkan kecerdikan luar biasa pada proses penjinakan tanaman liar dan persiapan kebutuhan pangannya. Misalnya tanaman singkong yang mengandung racun yang dapat mematikan (asam sianida, HCN), telah lama diketahui bahwa racun dapat dihilangkan dengan proses pemasakan. Ini merupakan suatu teknik yang tak mudah diketahui dengan begitu saja.Seleksi kadang-kadang mengakibatkan terciptanya suatu tipe baru dan untuk banyak tanaman sangat efektif.

Dari tanaman yang ada dewasa ini kebanyakan sangat berbeda nyata dengan nenek moyangnya yang masih liar, dan banyak yang telah sangat berubah sehingga garis turunannya telah kabur. Manusia purba merupakan pemulia tanaman (plant breeder) yang efektif, walaupun tanpa pengetahuan genetika sedikit pun.

Tanaman pertanian telah menyertai manusia dalam pengembaraan dan migrasinya. Introduksi spesies baru kepada habitatnya yang baru, merupakan salah satu wajah penting dalam perkembangan pertanian. Belakangan ini pusat produksi dari hampir semua tanaman pertanian sangat jauh berpindah dari pusat asal-usulnya.Tinggi rendahnya kebudayaan terletak pada penemuan-penemuan oleh orang-orang yang dilupakan sejarah.

Tidak diketahui secara tepat di manakah suatu tanaman pertama dibudidayakan. Menurut bukti-bukti arkeologi, tercatat 7.000 –8.000 tahun berselang, peninggalan sejarah didapatkan pada dataran-dataran tinggi yang terairi secara baik dari sungai-sungai Indus, Tigris, Eufrat dan Nil. Peristiwa yang mendahuluinya tentu berlangsung ribuan tahun sebelum itu.

Asia Tenggara, dengan geografinya yang beraneka ragam yang mengakibatkan diversifikasi vegetasi, dengan iklim yang lembut, dan kemampuan untuk mempertahankan populasi yang stabil dengan ekonomi dari perburuan dan penangkapan ikan, telah diduga merupakan lokasi yang layak sebagai tempat lahirnya pertanian primitif. Daerah ini, teristimewa kaya akan tanaman-tanaman yang membiak secara vegetatif.

Kemungkinan penanaman bagian vegetatif mendahului penanaman biji. Asal-usul pertanian primitif mungkin pada beberapa tempat di dunia secara tersendiri dan berkembang lewat penyebaran dan penyimpangan bentuk-bentuk tanaman baru pada lingkungan baru. Ketika pertanian pindah ke daerah iklim lebih dahsyat, penanaman dengan biji merupakan teknik yang dominan, menggantikan penanaman secara vegetatif. Ketika pertanian datang pada Dunia Lama (Asia, Afrika dan Eropa), gerakan mengarah ke lembah sungai, di mana dua bahaya yang sama yaitu kekeringan dan kebanjiran harus diatasi.

Perubahan-perubahan raksasa dipercepat dengan inovasi yang diperlukan untuk irigasi dan budidaya tanaman serealia. Teknologi baru menambah kebutuhan akan tingkatan sosial yang lebih tinggi, karya-karya besar dibutuhkan untuk membuat sungai menjadi berfaedah bukannya menjadi ancaman pada manusia. Keberhasilan teknologi ini dapat diukur dari populasi manusia yang didukungnya yang selalu meningkat. (edi kusmiadi/bersambung)

 


Scroll to top