BERITA INDEX BERITA
Narasi Besar Jalur Rempah, Spirit Membangun Negeri

Sejarah membuktikan, bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu penggerak globalisasi Asia. Tampaknya tak berlebihan pula bila dikatakan bahwa Indonesia senantiasa memegang peranan penting dalam perekonomian kawasan regional Asia Tenggara, bahkan sampai sekarang.
Dahulu kala Indonesia merupakan daerah sumber komoditas
paling berharga dan dicari dunia, yakni rempah-rempah. Dalam skala lebih luas,
jejak jalur rempah Nusantara bahkan berada di posisi strategis, memberi
pengaruh besar di keping poker peradaban dunia. Membentang luas hingga ke
negeri-negeri “di atas angin”, yaitu China, India, Timur Tengah sampai Eropa.
Sebagai pemain utama dalam sejarah penting yang mengubah peta sejarah dunia,
seyogianya masyarakat Indonesia berupaya lebih serius untuk melakukan pelurusan
sejarah agar peristiwa-peristiwa di masa lalu dapat dijelaskan secara lebih
berimbang. Fakta bahwa Nusantara pernah menjadi penghasil dan pemasok komoditas
rempah-rempah dunia tentu tak dapat dinafikan. Daya tarik cengkeh, pala, dan
bunga pala bahkan menjadi dorongan utama perkembangan perdagangan internasional
di Asia Tenggara pada masa itu.
Pohon
cengkeh (Eugenia aromatica, Kuntze ) adalah tanaman asli (endemik) Ternate,
Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Sedangkan pala dan bunga merahnya didapat dari
pohon pala (Myristica fragrans, Linn), endemik Pulau Banda. Tak kalah penting,
jenis rempah aromatik dari getah tanaman pohon endemik Sumatera, yaitu kemenyan
(Styrax benzoin) dan kamper/kapur (Cinna momum camphora dan Dryo balanops
aromaticum).
Beberapa komoditas penting lain seperti kayu manis (Cinnamomum burmanii) dan
lada (Pipernigrum ) juga banyak dihasilkan di Sumatera. Demikian pula cendana
(Santalum album) dan kemiri (Aleurites moluccana) yang banyak tumbuh di
kepulauan bagian timur Nusantara.
Kayanya komoditas rempah inilah yang telah menarik bangsa asing datang ke
Nusantara. Bukti awal ada peran Nusantara dalam percaturan dagang di Samudera
Hindia datang dari seorang astronom Yunani bernama Claudius Ptolomaeus, yang
tinggal di Alexandria, Mesir, pada abad ke-1 Masehi (M).
Ia menulis Guide to Geography, peta kuno di mana di dalamnya tercantum nama
sebuah kota bernama Barus, yang tampaknya merupakan kota pelabuhan kuno yang
amat penting di Sumatera dan dunia. Nama kota emporium ini mengingatkan kita
pada sebuah komoditas aromatik rempah, yang kala itu amat berharga dan
senantiasa diburu oleh bangsa-bangsa dunia, Yunani, Romawi, Mesir, Arab, China,
Hindustan, yakni kapur barus.
Meski sejumlah sumber China sebelum abad ke-14 mengenal asal cengkeh dari
Maluku, hanya ada satu catatan bertarik 1350, yang betul-betul menulis Jung
China langsung berlayar dari China ke daerah tersebut. Pengumpulan dan
pengangkutan rempah Maluku ke belahan dunia barat Nusantara ditangani
sepenuhnya oleh orang-orang Melayu, Jawa, dan Banda.
Lalu, para pedagang dari Melayu, Arab, Persia, dan China membeli rempah dari
Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke
seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini,
dengan harga mencapai 600 kali lipat.
Perdagangan rempah di Nusantara juga secara masif meninggalkan jejak peradaban
yang signifikan berupa peninggalan situs sejarah, situs budaya, hingga
melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi dari alam Nusantara yang
kaya. Tampak sekali, di masa lalu orang-orang berbagai bangsa
berbondong-bondong ke Nusantara tidak semata untuk berdagang, tetapi lebih pada
untuk membangun peradaban.
Mulai dari pelabuhan Barus di Sumatera Utara yang diperkirakan ahli sudah
berusia lebih dari 5.000 tahun, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sriwijaya,
Kerajaan Majapahit, Kejayaan Wangsa Syailendra, Kerajaan Kahuripan, hingga
negara-negara bandar seperti di Banten, Maluku, dan Sulawesi. Semuanya
terbentuk karena perdagangan rempah-rempah alias politik ekonomi masa itu.
"Malah menurut cerita sejarah masyarakat dulu, pada abad ke-6 China sudah
menambatkan kapalnya di pulau Tidore. Mereka membawa kapas, sutra untuk ditukar
dengan rempah-rempah," kata M Amin Faaroek, Perdana Menteri Kesultanan
Tidore (Jajou), Provinsi Maluku Utara.
Beranjak dari kesejarahan yang panjang dan temuan-temuan inilah, narasi besar
Jalur Rempah menjadi penting digelorakan. Ini juga untuk membungkam berbagai
argumentasi dari para ahli terutama dari luar, yang banyak memperdebatkan Jalur
Rempah hingga kurang mendapatkan apresiasi.
Kondisi makin rumit, ditambah selama ini masyarakat Indonesia senantiasa
memahami sejarah Nusantara dari perspektif asing (Barat). Padahal, narasi besar
Jalur Rempah ini sebagai diplomasi sekaligus posisi tawar Indonesia, dan untuk
lebih mempertegas jati diri atau identitas bangsa.
"Satu hal yang penting ditekankan, membicarakan jalur rempah jangan malah
kita terjebak apalagi mengulang nostalgia masa lalu yang tak mengenakkan. Jalur
rempah mesti menjadi spirit bangsa mewujudkan kemajuan dan kemandirian,"
ujar Hasan Wirajuda, Menteri Luar Negeri periode 2001-2009 yang saat ini
menjabat Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah.
Narasi Jalur Rempah yang berangkat dari inisiatif masyarakat ini memiliki
semangat untuk belajar dan menularkan antusiasmenya kepada publik yang lebih
luas tentang betapa pentingnya masyarakat Nusantara mengenal sejarah dan budaya
negeri sendiri, betapapun dengan cara yang sederhana.
Perspektif Jalur Rempah bahkan diyakini dapat menjadi entry point sekaligus
memberikan bingkai yang kontekstual untuk memahami Indonesia. Karena Jalur
Rempah bukan hanya berisi perdagangan rempah-rempah, tetapi juga sekaligus
menghasilkan pertukaran ilmu, sosial-budaya, bahasa, keahlian, keterampilan,
dan bahkan agama di antara manusia yang berasal dari berbagai tempat yang jauh.
Jalur Rempah merupakan melting pot berbagai konsep, gagasan, dan praksis. Dan,
Jalur Rempah menjadi sarana perpindahan semua itu, dari satu tempat ke tempat
lain. Pengetahuan dan pemahaman terhadap hal tersebut di atas menjadi penting
untuk senantiasa dipupuk dan ditumbuhkan, agar manusia Indonesia tak lupa
dengan multikulturalisme yang telah membentuknya. (hendri irawan/sindonews)
















