BERITA INDEX BERITA
Indonesia Kini Kekurangan Petani Muda, Ujung Tombak Kesejahteraan Desa

Jakarta, GATRAnews - Rendahnya minat generasi muda menggeluti sektor pertanian menjadi masalah serius di Indonesia. Fakta di lapangan menunjukkan pekerja sektor ini didominasi oleh usia non produktif.
Hal ini menjadi anomali mengingat Indonesia adalah negara agraris. Minimnya regenerasi petani ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama. Beberapa diantaranya adalah adanya paradigma mengenai buruknyakualitas hidup pekerja pertanian. Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pertanian (KRKP), Said Abdullah menyebut anak muda menganggap profesi petani bukan lah profesi idaman. Namun, pertanian masih menjadi andalan bagi masyarakat pedesaan di Indonesia.
"Anak muda enggak tertarik jadi petani. Bahkan, survey di beberapa wilayah menunjukkan, 70% orangtua tak ingin anaknya menjadi petani," ungkap Said, Selasa (25/4) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.Kondisi ini diperparah oleh minimnya lulusan pendidikan tinggi pertanian yang bergelut di bidangnya. "Bahkan sarjana pertanian pun tidak jadi petani. Orangtua mereka menganggap sayang kalau sekolah tinggi-tinggi malah turun ke sawah," imbuh Said.
Padahal, potensi pertanian di Indonesia masih sangat besar. Permasalahan lain yang muncul adalah kurangnya akses lahan dan modal bagi petani. Selama ini, petani yang mendapatkan akses permodalan hanya petani yang memiliki kuota produksi besar dari lahan yang luas.
"Padahal banyak kesempatan, misalnya holtikultura yang nggak perlu lahan luas. KRKP melihat desa harus memberi kesempatan regenerasi petani, para pemuda juga perlu dilibatkan dalam musrembang desa, karena alokasi dana desa dari pemerintah terus meningkat," urainya.
Sementara itu, petani muda asal Garut, Jawa Barat, Rizal Fahreza menilai masih banyak anak muda seperti dirinya yang berminat menggeluti sektor pertanian. Hanya saja, kurangnya informasi dan pelatihan membuat anak muda tak mendapatkan kesempatan berkembang. Rizal saat ini mengembangkan buah jeruk sebagai produk pertanian unggulannya.
"Alasan saya mau menjadi petani adalah karena saya perlu uang. Sebanyak 20% orang Indonesia perlu buah, jadi ada potensi untuk berjualan buah," jelas Rizal. Demi memaksimalkan produksi, Rizal pun mengembangkan keterampilannya di bidang pertanian. Duta Petani Muda KRKP 2016 ini belajar banyak mengenai strategi pemasaran, dan pengembangan produk.
"Saya belajar mengenai strategi bisnis, dan hal-hal yang berhubungan dengan pemasaran. Akhirnya saya bisa membuat akses permodalan untuk petani lainnya. Menjadi petani itu perlu banyak perhitungan, saya bekerjasama dengan empat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Garut, agar petani muda berkembang," paparnya.
Setelah berhasil mengembangkan bisnisnya, Rizal bersama petani mitra nya tengah menggarap program agrowisata di Garut. "Jeruk itu jadi pembukanya, setelah dipasarkan di Jabodetabek, kami ingin menggarap agrowisata," tandasnya.
Sumber : gatra.com
















