BERITA INDEX BERITA
Petani RI Belum Sejahtera, Cara Ini Bisa Dilakukan agar Mereka Bahagia
Pangan & Energi | DiLihat : 1390 | Selasa, 26 Juni 2018 | 10:37

Melimpahnya sumber daya alam nyatanya tak mampu membuat para petani benar-benar bahagia. Kegiatan pertanian yang biasa berlangsung di pedesaan, dengan sarana dan prasarana konvensional merupakan salah satu yang membuat para petani tak bisa menikmati hidup sejahtera. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, setiap rumah tangga petani hanya mampu menghasilkan sebesar Rp 1.050.000 per bulan. Hal ini diungkap oleh Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa kepada kumparan.
Penerapan teknologi yang dilakukan oleh para petani diharapkan bisa menjadi salah satu jembatan kesejahteraan bagi mereka. Sehingga, ketahanan pangan dalam negeri bisa terwujud. Dwi mengatakan, selama ini petani di Indonesia hanya sekadar menjadi konsumen dalam kemajuan teknologi di sektor pertanian. Misalnya dalam hal produksi bibit atau benih pertanian. Dwi menambahkan, bidang yang paling penting untuk diterapkan dalam pertanian adalah bibit. Sekitar 60% keberhasilan atau pun kegagalan usaha petani.
"Dalam skala prioritas, bibit itu yang paling penting dibangun dan diterapkan teknologi. Pengembangan varietas atau bibit sangat penting," kata dia. Selama ini, peran petani dalam mengembangkan varietas tanaman sering diintervensi dengan berbagai program, baik dari pemerintah maupun perusahaan swasta. Contohnya dengan banyaknya penelitian yang menemukan jenis varietas baru.
"Hal ini sering membuat mereka (pemerintah atau pun swasta) menjual bibit hasil teknologi dan petani hanya akan membelinya. Padahal, yang paling banyak mengembangkan varietas tanaman itu petani. Jadi mereka yang harus diedukasi dan diterapkan teknologi dalam pengembangan bibit," ujarnya.
Dwi dan beberapa petani lainnya sudah membuktikan bahwa dengan teknologi, produktivitas dan kesejahteraan petani bisa meningkat dengan menciptakan salah satu varietas padi bernama IF8 (Indonesian Farmer 8). Saat ini, varietas padi yang dikembangkan oleh para petani kecil ini sudah tersebar di 85 kabupaten di 14 provinsi, salah satunya Karanganyar.
"Petani kecil itu yang paling banyak berkontribusi dalam menghasilkan produk pangan. Mereka butuh teknologi agar mampu menghasilkan produk pangan yang lebih baik lagi," katanya. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) juga menyadari pentingnya berinovasi dalam bidang pertanian dengan menggelar Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) pada 28-30 Juni 2018 mendatang. Dalam forum yang mengangkat tema 'Transforming Challenges into Opportunities: Agricultural Innovation and Food Security' ini nantinya akan dibahas terkait penerapan teknologi dalam sektor pertanian untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan pangan.
"Dengan pertimbangan momen Asian Games, kegiatan ASAFF di sektor pertanian ini akan kami angkat. Kita akan melihat suatu perkembangan dari pertanian di Asia, secara khusus kita akan memperkenalkan pertanian Indonesia dari mentah hingga yang jadi. Teknologi yang digunakan juga," kata Chairman of the Organizing Comittee ASAFF 2018 Winston Simanjuntak saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Senin (25/6).
Forum bisnis ini juga akan dihadiri oleh 6 negara di Asia, seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Iran, India, dan Timor Leste. "Nanti di sini akan ada selain business forum itu juga ada pameran tentang pangan dan teknologi dalam sektor pertanian. Misalnya itu drone dari negara China, kemudian teknologinya kalau dari Indonesia itu ada pabrik di Indonesia tentang traktor," katanya lagi.
Acara ini bertujuan untuk memberi edukasi teknologi kepada para petani, sehingga pihaknya mengharapkan nantinya akan ada sebanyak 900 petani dari seluruh Indonesia bisa turut hadir dalam kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini.
kumparan











