BERITA INDEX BERITA
Generasi Penerus Berinovasi, 5 Teknologi Pertanian Karya Anak Negeri

Inovasi ini datang dari seorang anak bernama Naufal, yang baru saja lulus dari MTs Negeri 1 Langsa, Aceh. Naufal membuat listrik dari pohon kedondong sejak umurnya 12 tahun. Saat itu dirinya menerima pelajaran bahwa buah-buahan seperti kedondong, mangga, belimbing, dan buah dengan kandungan asam lain mampu menghasilkan arus listrik. Ia pun mencobanya pada pohon kedondong.
Menurut Naufal, untuk menghasilkan listrik dari pohon kedondong ini membutuhkan tembaga, logam, dan kain maupun tisu. Caranya yaitu dengan melubangi pohon, kemudian tembaga dan logam yang telah dilapisi kain atau tisu dimasukkan dalam lubang pohon. Kain atau tisu yang telah menyerap asam pohonlah yang mampu membuat tembaga dan logam mengaliri arus listrik.
Teknologi pertanian karya anak bangsa selanjutnya adalah suatu aplikasi yang mampu mengukur kelembapan dan nutrisi dalam suatu tanaman. Aplikasi tersebut bernama Habibi, dikembangkan oleh perusahaan startup Indonesia yang bernama Habibie Garden. Pemantauannya yang real time, dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mengurangi rusaknya tanaman dan meningkatkan hasil panen.
Cara penggunaan aplikasi Habibi sangatlah sederhana. Anda hanya perlu meletakkan alat di lahan. Lalu data-data seperti temperatur, cahaya, kadar air, kelembapan, dan nutrisi tanah akan diproses dan dikirimkan ke smartphone anda. Selanjutnya terdapat pengontrol yang bernama Habibi dosis pump yang mampu memberikan pupuk serta air kepada tanaman secara terukur dan tepat.
4. Helm Green Composite
Seorang peneliti bernama Siti Nikmatin yang merupakan dosen Fakultas MIPA IPB berhasil menciptakan helm yang terbuat dari bahan campuran serat tandan kosong kelapa sawit. Helm yang berasal dari serat tumbuhan ini memiliki komposisi 20% serat tumbuhan dan sisanya adalah polimer Akrilonitril Butadiena Stiren (ABS). Helm ini digadang-gadang tahan terhadap benturan.
Menurut penanggung jawab produksi helm Green Composite, helm ini memiliki skor kriteria cedera kepala sebesar 800 poin. Sedangkan standar SNI harusnya tidak lebih dari 3000 poin. Helm ini juga lolos standar negara Amerika yang tidak boleh lebih dari 1000. Sehingga helm ini sangat baik untuk melindungi kepala dan lolos untuk pemasaran internasional.
5. Drone Sawah
Meskipun drone bukanlah berasal dari Indonesia, namun Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa tengah, berhasil memanfaatkan teknologi tersebut untuk kegiatan pertaniannya. Pemanfaat drone di Kecamatan tersebut adalah sebagai penyemprot pestisida. Karena teknologi tersebut, penyemprotan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien.
Selain bisa mengurangi dampak terpaparnya pestisida terhadap penyemprotnya, penyemprotan pestisida ini bisa dilakukan sangat cepat untuk lahan yang luas. Dipaparkan bahwa penyemprotan satu hektar sawah hanya dilakukan selama setengah jam. Sedangkan apabila menggunakan cara manual bisa memakan waktu hingga tiga jam lamanya. Sangat inovatif bukan?
Kelima teknologi pertanian hasil pemikiran kreatif anak negeri itu beberapa telah diakui oleh dunia. Beberapa diantaranya mampu memajukan sektor pertanian dan yang lain bisa memanfaatkan hasil pertanian untuk pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. Semakin besar harapan kepada anak penerus generasi bangsa untuk menghasilkan inovasi lain guna pengembangan pertanian Indonesia.
mediatani
















