BERITA INDEX BERITA

Sarjana Pertanian "Ogah" Jadi Petani, Apa Alasannya?

Pangan & Energi | DiLihat : 1736 | Jumat, 09 Maret 2018 | 12:29
Sarjana Pertanian "Ogah" Jadi Petani, Apa Alasannya?

BALI - DPP Pemuda Tani Indonesia mengadakan pelatihan pertanian organik di Pusat Pelatihan Pertanian Somya Pertiwi di Desa Mangesta Kecamatan Panebel Kabupaten Tabanan Bali pada 6 Maret- 8 Maret 2018 Pelatihan ini merupakan rangkaian agenda International DPP Pemuda Tani Indonesia bertajuk ASEAN Farmers Youthcamp 1.

Dalam pelatihan ini peserta yang berasal dari dalam dan luar negeri ini di ajarkan tentang pertanian organik. Mulai dari mengolah lahan, penanaman, pembuatan pupuk organik sampai proses penggilingan beras organik. Ketua Harian Pemuda Tani Indonesia Suroyo mengatakan, saat ini Indonesia dan dunia memiliki masalah dalam hal regenerasi petani. Menurutnya, minat pemuda untuk bertani saat ini sangat minim.

"Banyak pemuda/sarjana pertanian yang lari dari sektor pertanian. Karena saat ini image yang dibangun petani adalah kaum yang susah, cenderung miskin dan sebuah profesi yang tidak menjanjikan," kata Suroyo dalam keterangan tertulisnya, Jakarta. Padahal jika di kelola dengan baik, lanjut Suroyo menjelaskan, sektor pertanian memberikan kesempatan yang besar untuk menjadi sukses. Oleh karena itu, tugas Pemuda Tani Indonesia mengkampanyekan ayo bertani bagi pemuda melalui dialog motivasi ke sekolah dan kampus, pelatihan pertanian dan pendampingan bisnis berupa pembuatan lahan percontohan, jaringan pasar sampai pinjaman permodalan.

Menurut Diego, peserta Pelatihan asal Brazil "kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pembangunan motivasi bagi pemuda untuk bertani". Dalam keterangannya dia berharap agar tercipta banyak agropreneur muda yang siap mensuplai kebutuhan pertanian Indonesia dan dunia. Diego juga berharap agar kegiatan ASEAN Youth Farmer ke dua segera di laksanakan lagi. Senada dengan Diego, Hasan peserta kegiatan asal Jawa Timur mengatakan bahwa dirinya sangat bangga bisa mengikuti kegiatan ini. Selain mendapatkan banyak ilmu, Hasan juga mengatakan mendapatkan banyak jaringan karena mengikuti kegiatan ini. Hal ini sangat bermanfaat bagi bisnis pertanian yang sedang dia kembangkan.

Peserta juga belajar di Jatiluwih Rice terraces sebuah persawahan yang telah di akui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, peserta melihat bagaimana konsep pertanian organik dan berkelanjutan.

Selain itu, peserta juga di ajak untuk mengunjungi pengolahan coklat. Dalam kesempatan ini peserta diajarkan bagaimana cara mengolah kakao menjadi coklat yang siap dikonsumsi.

Acara ini sukses berkat kerjasama dan dukungan dari sponsor yaitu PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PLN (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Pupuk Indonesia (Persero) Tbk, PT Jasa Raharja Persero dan Bank Indonesia.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, ketahanan pangan bukan hanya permasalahan di dalam negeri tapi juga terjadi di seluruh dunia. Hal ini bisa tertangani dengan kemajuan teknologi di sektor pertanian.

“Pertanian itu terlalu banyak tantangannya secara umum. Pertumbuhan penduduk yang meningkat tiap tahun setidaknya 3% tiap tahun, akibatnya kebutuhan pangan terus naik tiap tahunnya. Kita harus siap meningkatkan produksi,” ujarnya dalam sambutan acara JFFS-4 di JCC Senayan, Jakarta, kemarin. Dia menjelaskan, pada usia negara Indonesia 100 tahun pada 2045 mendatang penduduk Indonesia akan meningkat menjadi 350 juta jiwa. Penduduk dunia saat itu akan mencapai 9 miliar.

"Saat kita ulang tahun ke 100, penduduk kita diperkirakan tambah 100 juta jiwa. Itu besar sekali kita butuh ketahanan pangan, karena penduduk meningkat terus. Pangan bukan hanya masalah jangka pendek tapi juga jangka panjang" ujar dia.

okezone


Scroll to top