BERITA INDEX BERITA

Metode Hazton Ini Mampu Hasilkan Padi Puluhan Ton. Berani Coba?

Pangan & Energi | DiLihat : 1173 | Rabu, 10 Januari 2018 14:27
Metode Hazton Ini Mampu Hasilkan Padi Puluhan Ton. Berani Coba?

Metode Hazton, mungkin tidak setenar Metode Jajar Legowo atau SRI dalam hal penanaman padi. Namun, metode ciptaan dua putra Kalimantan Barat ini merupakan harapan nyata untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menuju swasembada pangan di Indonesia. Adalah Hazairin dan Anton Kamarudin, yang melakukan riset hebat hingga menemukan teknik tersebut.

Hazairin adalah Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat (Kalbar). Awal karirnya sebagai penyuluh pertanian. Tak heran, ia paham dengan tipologi lahan pertanian di Kalimantan Barat, serta metodologi yang kerap digunakan petani lokal dalam hal bercocok tanam. “Hanya lihat dan pegang daun saja, saya sudah tahu tanaman ini kekurangan unsur N, P, atau K,” ujarnya belum lama ini.

Saat jadi penyuluh, Hazairin tak segan mengamati kasus yang terjadi di daerah dampingannya. Munculnya teknologi Hazton pun berawal dari pengamatan di lapangan. Baik Hazairin maupun Anton mengamati, petani di Kalbar kerap menanam padi dengan satu hingga tiga bibit per lubang tanam.

Dari bibit tersebut, dihasilkan satu rumpun padi dengan jumlah 10 hingga 20 anakan vegetatif. Selanjutnya, pada masa generatif menghasilkan 10 hingga 15 anakan produktif, dengan produksi padi sekitar tiga hingga empat ton per hektar. Hingga akhirnya, Hazairin dan Anton memiliki pemikiran kontroversional, menggunakan bibit padi lebih tua, cara berbeda yang biasa digunakan petani. Kebanyakan orang berpendapat, bibit tua tidak menghasilkan bulir padi yang banyak. Namun, semakin tua bibit padi, justru semakin tahan terhadap penyakit. Dari hasil penelitian, didapati juga semakin padat bibit padi yang dimasukkan dalam satu lubang, akan semakin banyak menghasilkan padi berkualitas dan kuat berkompetisi. Salah satunya, meminimalisir hama keong yang hanya suka pada padi muda.

Pada 2012, metode ini pun diperkenalkan di Kalimantan Barat, dengan nama Hazton, akronim dari Hazairin dan Anton, sang penemu. “Dulu, kita dilarang menanam padi dengan bibit banyak, tapi metode ini malah menggunakan banyak bibit,” kata Hazairin. Sebuah demplot pun dibuat. Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, selaku Tim Pengendali Inflasi Daerah, mendukung pengembangan penerapan metode tersebut.

Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, daerah awal pengembangan metode ini. Tahun 2014 lalu, Kelompok Tani Nekad Maju di Desa Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, menerapkan metode ini di lahannya. Gabungan kelompok tani (gapoktan) ini, binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat.

“Sebelum menggunakan Hazton, hasil panen per hektar berkisar tiga hingga empat ton. Kini bisa mencapai sembilan hingga sepuluh ton,” kata Bukhari (60), anggota Gapoktan Nekad Maju. Melihat kesuksesan tersebut, kata Bukhari, banyak petani yang tertarik bergabung. Jumlah anggota bertambah, dari tujuh menjadi 11 kelompok tani.

Luas areal yang mengaplikasikan metode ini meningkat dari 25 hektare menjadi 200 hektare. Saat ini, Gapoktan Nekat Maju bahkan sudah mempunyai gudang dan rumah pengeringan padi. Untuk bibit, mereka telah menjalin kerja sama dengan Balai Benih Induk Peniraman.

Rokib, Ketua Gapoktan Nekad Maju menyatakan, metode ini membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Betapa tidak, pendapatan kotor selama tiga bulan dapat mencapai Rp40 juta. “Dipotong biaya tananaman dan pemeliharaan Rp10 juta, pendapatan bersih petani Rp30 juta. Artinya, pendapatan per bulan untuk per hektare Rp10 juta.”

Rokib awalnya ragu. Dia bahkan mengira, Hazton adalah jenis padi, bukan teknik menanam. “Agak rumit. Setelah dijalani dan mendapatkan hasil, ternyata tidak ada yang mustahil.”

Semula, Rokib kurang yakin jika menggunakan 20 hingga 30 bibit padi dalam satu lubang tanam akan berhasil. Terlebih, modal tanam akan bertambah. Namun setelah panen, modal tanam itu kembali, karena hasil yang melimpah. Dengan Metode Hazton, memang modal tanam per hektare naik dari Rp5 juta menjadi Rp7 juta. “Tapi, pendapatan juga naik dari Rp10 juta menjadi Rp30 juta per hektar,” katanya.

mongabay


Scroll to top