BERITA INDEX BERITA

Kaltara Dipilih Jadi Lumbung Pertanian Beras Organik Berpotensi Dikembangkan

Pangan & Energi | DiLihat : 1004 | Rabu, 25 Oktober 2017 09:22
Kaltara Dipilih Jadi Lumbung Pertanian Beras Organik Berpotensi Dikembangkan

TARAKAN — Provinsi termuda ini kembali mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Kemarin (23/10) Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melankukan kunjungan ke Bumi Banuanta. Yang rencananya akan menjadikan Kaltara sebagai lumbung pertanian.

Menurutnya, Kaltara yang merupakan provinsi terakhir dari beberapa provinsi  yang dipilih sebagai lumbung pertanian. Berdasarkan nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla yang terus membangun daerah perbatasan.

Insya Allah tahun depan kami ingin ada yang di ekspor ke Malaysia (Sabah) dan pasti bisa,” ujarnya di ruang VVIP Bandara Juwata Tarakan, Senin (23/10).

Bahkan, kata Andi sapaan akrabnya, saat ini Indonesia mampu menghasilkan surplus dari produksi dua komoditi ini,  hingga di ekspor ke Malaysia. Keberhasilan ini juga mencegah penyelundupan barang-barang sembako terutama beras dan bawang merah yang sebelumnya terjadi di Lingga.  Perbatasan lainnya yakni Entikong, Kalimantan Barat, juga sudah berhasil menjadikan beras organik sebagai komoditi utama pertanian mereka.“Hasilnya pun telah di ekspor ke Malaysia,” ungkap Andi.

Tak hanya itu, di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kementerian Pertanian menunjuk dua daerah yang Kabupaten Malaka dan Belu, sebagai lumbung pertanian. Hasilnya,  juga surplus beras organik hingga mengekspornya ke Timor Leste.

Sementara di Provinsi Papua, Merauke menjadi pusatnya. Dari upaya yang dilakukan Kementeran Pertanian, kata Andi, panen beras organik di sana berhasil menekan harga beras hingga normal seperti harga beras di wilayah Indonesia lainnya. “Jadi yang dulu harganya bisa mencapai Rp 80 ribu per kilogram, kini hanya Rp 8 ribu per kilogram,” tutur Andi.

Lebih lanjut Andi menjelaskan, sederet hasil memuaskan di bidang pertanian saat ini, yang dapat menjaga deflasi terhadap perkonomian Indonesia, yang kini hanya berkisar tiga hingga empat persen. Saat ini  Indonesia sudah masuk dalam tiga besar negara-negara G-20 yang perekonomiannya tumbuh cukup baik. “Ini kita harus syukuri,” imbuhnya.

Untuk Kaltara sendiri, Kementerian Pertanian terlebih dulu akan melihat potensi pertanian yang bisa dikembangkan sesuai kondisi daerah. Karena itu, selain memenuhi janjinya kepada Gubernur Kaltara Irianto Lambrie untuk datang ke provinsi termuda ini, ia juga ingin melihat potensi pertanian di Bumi Banuanta.

Beras organik bisa menjadi salah satu pilihan komoditi untuk dikembangkan. Selain itu, jenis rempah-rempah juga bisa menjadi alternatif lain seperti merica dan lada. Tidak ketinggalan potensi di bidang perkebunan seperti kelapa sawit dan coklat juga menjadi daftar yang akan dikembangkan.

Lanjutnya, dari komoditi pertanian dan perkebunan yang dikembangkan nanti, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Kaltara. Bahkan, bisa di ekspor ke Malaysia karena peluangnya dinilai cukup besar. Pihaknya juga berencana akan kembali pada masa kejayaan rempah-rempah Indonesia, tentunya akan menjadi penggerak perekonomian nantinya.

“Di sana (Malaysia, Red) pasar kita 30 juta orang. Mereka impor beras 1 juta kg dan impor jagung 3 juta kg, kurang lebih Rp 20 triliun potensi baru dua komoditas. Belum lada, mericanya dari sini (Indonesia, Red),” tutur Andi.

Dengan adanya potensi-potensi pertaniah tersebut, Andi menyarankan agar bisa menghasilkan beras organik dan rempah-rempah lainnya berlimpah, tentu harus bercocok tanam dengan sistem modern. Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah kemauan masyarakat Kaltara untuk bersedia melakukannya. “Petani kita bergerak di hulu saja, sehingga presiden minta koperasi dikorporasikan. Karena edit value-nya banyak di hilir,” terangnya.

Disinggung daerah mana saja yang akan dijadikan lumbung pertanian di Kaltara, Andi belum bisa memastikan. Sebab dia harus mengumpulkan data dan melihat dulu kondisi di masing-masing kabupaten dan kota di Kaltara ini.

Sementara itu, Gubernur Kaltara Irianto Lambrie yang menjemput kedatangan Menteri Pertanian melaporkan, potensi beras organik menjadi komoditi paling besar untuk dikembangkan. Karena beberapa daerah perbatasan sudah menanamnya, seperti Malinau dan Nunukan.

“Di sini (Kaltara, red) sudah ada beras organik tradisional dan harganya mahal seperti beras Adan, berada di perbatasan yang sudah dipasarkan sampai Serawak,” ujar Irianto Lambrie.

Bahkan beras pulen ini, sudah dilihat dan dirasakan oleh Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Kaltara, beberapa pekan lalu. Ia berharap, Menteri Pertanian juga mempunyai kesempatan melihat langsung produksinya di daerah penghasil.  Selain beras organik, Irianto juga menyebut potensi lainnya seperti kepala sawit, jagung, coklat, merica, dan aneka buah-buahan.

“Beberapa komoditi itu bisa dijumpai di Sebatik, Nunukan,” kata Irianto.

Sementara itu, Wali Kota Tarakan, Sofian Raga menambahkan, meskipun Tarakan hanya pulau kecil, luasnya hanya sekitar 250 meter persegi, tetapi masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan sehingga bisa ditanami beberapa komoditi yang akan dikembangkan.

“Memang lahan menjadi yang utama dalam rangka memngembangkan pertaninan. Apakah itu palawija, padi dan sebagainya,” terangnya.

Lanjutnya, masih banyak lahan yang potensinya besar untuk dimanfaatkan, dan memang memerlukan dukungan sarana dan prasarana peralatan untuk membuka lahan-lahan baru. Dalam rangka memenuhi kebutuhan lokal, paling tidak swasembada untuk kota Tarakan sendiri bisa tercukupi. Atau dalam rangka ketahanan pangan di Tarakan.

“Saya pikir ini bagus sekali. Kan rata-rata semak belukar sehingga perlu diolah,” pungkas Sofian. (*/one/nri)

prokal.co


Scroll to top