BERITA INDEX BERITA
Peternak Keluhkan Minimnya Infrastruktur Pasca Panen Jagung

JAKARTA - Peternak layer hingga kini masih harus menebus jagung dengan harga tinggi, sebagai bahan baku utama pakan ternak ayam petelur.
Presiden Peternak Layer Nasional Musbar mengatakan, harga yang tinggi disebabkan karena sentra produksi jagung tersebar di luar Jawa, sementara sentra ternak ada di Jawa. Sebanyak 40% produksi telur nasional disumbang oleh Kabupaten Blitar.
Sentra produksi jagung yang tersebar juga belum ditunjang dengan kesiapan infrastruktur pascapanen yang merata di seluruh area. Kesiapan silo dan dryer yang masih minim membuka peluang permainan petani pengepul untuk mendongkrak harga.
"Kalau dikatakan belum optimal, tidak juga. Namun, karena area tanam yang tersebar. Sementara, off farm belum diwujudkan 100% di seluruh area. Off Farm hanya ada di bawah area GPMT," katanya.
Musbar menyebut harga jagung di Sumbawa, Lombok, Bima, Dompu misalnya, sebesar Rp4.200 di tingkat petani pengepul. Hal ini berbeda dengan harga acuan jagung dengan kadar air 15% yang diatur dalam Permendag No. 27 Tahun 2017 sebesar Rp3.150 per kg.
Dia meminta Satgas Pangan dapat bertindak mengatasi harga jagung yang jauh tinggi di atas harga acuan. Selain itu, semestinya Kementerian Perdagangan juga melakukan sosialisasi terhadap aturan tersebut.
"Saat ini ada pembiaran oleh pemerintah. Tidak ada penindakan," imbuhnya.
bisnis.com
















