BERITA INDEX BERITA

OPTIMALKAN HASIL PADI, PETANI MINTA DATANGKAN AHLI PENGOLAH SAWAH

Pangan & Energi | DiLihat : 909 | Rabu, 29 Maret 2017 12:49
OPTIMALKAN HASIL PADI, PETANI MINTA DATANGKAN AHLI PENGOLAH SAWAH

RMOL.Bentangan sawah baru yang ada di Desa Pengabuan Kecamatan Abab Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang mencapai 1030 hektar sampai saat ini belum ada petani yang menggarapnya, padahal pemerintah telah memberikan bantuan bibit serta berbagai macam peralatan modern tepat guna.

Hal itu dikarenakan, ketika musim tanam tahun 2016 lalu mengalami gagal panen, diakibatkan banjir yang melanda dan merendam tanaman petani. Dan untuk musim tanam tahun ini, petani masih menunggu cuaca membaik, sebab dikhawatirkan kembali oleh petani, apabila mereka memaksakan untuk menanam di tengah cuaca yang curah hujannya masih tinggi, kegagalan akan terulang.

"Kami nunggu cuaca normal,karena saat ini walaupun kemarau,kami tidak khawatir kekurangan air, sebab pemerintah telah membangun kanal sebagai penyimpanan air," ucap Ciksam, salah satu petani.

Untuk mengoptimalkan pengolahan sawah baru,kepala desa Pengabuan,Anto mengharapkan Pemerintah Kabupaten PALI untuk membina petani padi di desanya.

Sebab menurutnya,ilmu yang melekat di petani saat ini hanya otodidak dan hanya turun temurun,dan sebelumnya juga,petani didesanya belum pernah menanam padi yang bisa di panen dua kali dalam satu tahun.

"Petani sini biasa tanam padi tinggi,yang hanya bisa panen satu tahun sekali,sebab lokasi sawah dahulu merupakan rawa-rawa yang cukup dalam.Namun setelah dibangun pemerintah,saat ini letak sawah serta sarana untuk pertanian padi telah mampu untuk ditanami bibit padi yang bisa panen dua kali setahun.Oleh sebab itu,petani minta binaan dari pemerintah," pintanya diungkapkan kepada RMOL Sumsel,Selasa (28/3).

Anto berharap agar pemerintah bisa mendatangkan petani yang sudah ahli mengolah sawah dari luar PALI, untuk mengajarkan ilmunya kepada petani di desanya.

"Misalkan mendatangkan 10 orang petani padi dari pulau Jawa kesini selama satu musim,jadi langsung praktek dari mulai mengolah sawah,menyemai benih, cara menanam sampai perawatan dan panen.Hingga apabila itu dilakukan disini,petani kita akan mencontoh dan ilmu pasti didapat,sebab langsung praktek di lapangan," sarannya.

Sebab,apabila hanya studi banding dengan mengirim petani keluar wilayah PALI,menurut Anto kurang efektif.Karena,waktu terbatas juga banyak teori yang didapat bukan langsung praktek di lapangan.

"Biasanya kalau studi banding hanya melihat-lihat saja dan hanya ilmu teori yang didapat,beda dengan mendatangkan petani yang biasa mengolah sawah kesini,dimana nantinya masyarakat dan petani padi yang didatangkan akan bersama-sama praktek dilapangan," urainya.

Belum adanya aktivitas petani dilahan sawah baru,dijelaskannya bahwa saat ini,petani bukan membiarkan lahannya,melainkan menunggu cuaca membaik.

"Pada bulan September 2016 lalu,petani telah lakukan penanaman,namun banjir tahun lalu kami hitung terjadi sampai 16 kali,mengakibatkan tanaman padi mati karena terendam.Saat ini petani menunggu cuaca membaik,tetapi ada beberapa orang petani sekarang ini sudah mulai membajak sawahnya," jelasnya.[sri]

sumber : rmolsumsel.com


Scroll to top