BERITA INDEX BERITA

WWF & Field Indonesia himpun 'petani zaman now' melalui sekolah lapangan

Pangan & Energi | DiLihat : 845 | Rabu, 20 Desember 2017 11:41
WWF & Field Indonesia himpun

Untuk pemberdayaan petani sangat perlu swadaya di lokasi program untuk belajar langsung di lapangan secara berkelompok. Seperti sekolah lapangan (SL) yang bertujuan agar para petani selaku manajer di kebunnya sendiri mampu memahami cara kerja tanaman dan interaksinya dengan unsur-unsur ekosistem kebun lainnya.

Hal inilah yang dilakukan World Wildlife Fund (WWF) bersama Farmers' Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (Field) Indonesia di Balai Jorong Koto Agung, Nagari Sungai Duo, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Selasa (19/12).

Dengan motto 'petani zaman now, no ribut punya solusi' WWF dan Field Indonesia menghimpun para petani sawit dan karet dengan pendekatan melalui SL RIMBA (Riau, Jambi dan Sumatera Barat).

"Memberikan pemahaman terhadap petani tidak melulu dengan metode ceramah ataupun pelatihan dari narasumber berkompeten. Namun perlu aktualisasi dilapangan yang melibatkan pola petani langsung, sekaligus menghimpun gagasan-gagasan para petani," terang Trainer Field Indonesia, Triyanto PA.

Dikatakannya, sekolah lapangan adalah Sebuah metodologi belajar bagi petani di Koridor RIMBA bagi petani karet dan petani kelapa sawit swadaya (smallholder) untuk mengadopsi praktik pengelolaan terbaik.

"Merupakan tahapan yang ditempuh program RIMBA untuk mewujudkan ekonomi hijau di koridor RIMBA dengan fasilitasi pendanaan dari Millenium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia)," ulasnya.

Triyanto PA menjelaskan, tujuan besar dari program RIMBA untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan peningkatan cadangan karbon di lanskap kritis RIMBA dengan meningkatkan keterhubungan ekosistem melalui pembangunan ekonomi hijau.

"Sejalan dengan hal tersebut, penghidupan masyarakat akan meningkat (baik melalui ekonomi kreatif, peningkatan akses terhadap sumberdaya alam dan pengurangan keterancaman)," katakanya.

Perwakilan Field Indonesia lainnya, Heriyanto, mengatakan hari temu SL RIMBA ini dihadiri sekitar 200 orang lebih petani yang tergabung dalam 11 SL yang tersebar di 9 Nagari dari 6 Kecamatan di Kabupaten Dharmasraya. Termasuk 16 orang pemandu lapangan SL yang juga berasal dari petani karet dan sawit di daerah tersebut.

"Hari temu lapangan ini bertujuan untuk penyebarluaskan informasi tentang pengetahuan yang telah dilakukan selama proses pembelajaran yang dilakukan di 11 SL," ungkap Heriyanto.

Dalam hal ini masing-masing SL menggelar hingga 10 kali pertemuan. Uniknya jadwal pertemuan itu sendiri diatur para petani yang tergabung dalam SL.

"Saat ini ada empat SL inti sawit dan tujuh SL untuk petani karet. Masing-masing SL itu anggota mencapai 25 orang petani," pungkasnya. [rhm] 

merdeka


Scroll to top