Hasil penelitian CIPS menunjukkan di beberapa daerah seperti Indramayu, Jawa Barat, Kebumen dan Cilacap di Jawa Tengah, kebanyakan petani menilai program bantuan atau subsidi pertanian yang diberikan pemerintah kurang efektif untuk memperbaiki kesejahteraan mereka.
Contohnya saja subsidi benih, petani menilai program ini kurang efektif untuk membantu mereka karena benih subsidi berisiko berkualitas buruk. Benih subsidi juga memiliki ketidakpastian periode distribusi. Oleh karena itu, lanjutnya, petani lebih memilih untuk menggunakan benih non-subsidi.
Program lain yang dianggap tidak efektif adalah subsidi pupuk dan subsidi beras. Subsidi pupuk dianggap tidak efektif karena 60 persen penerimanya tergolong petani kaya karena memiliki lahan seluas 0,75 – 2 hektare.
"Proses distribusinya juga bermasalah dan tidak diawasi dengan baik oleh pemerintah. Sementara itu, subsidi beras tidak efektif karena warga miskin harus membayar lebih dari harga yang ditetapkan pemerintah. Kualitas beras yang diberikan juga seringkali buruk,” jelasnya.
Baru-baru ini, para petani di Sukabumi diminta mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu tani. Pemegang kartu ini akan menerima bantuan berupa pupuk subsidi.
Setelah proses pendataan selesai, proses akan dilanjutkan dengan pembagian kartu pada pertengahan November 2017. Peluncuran kartu tani ini telah dilakukan di tingkat provinsi.
Mengingat tidak efektifnya program subsidi pertanian, salah satunya adalah subsidi pupuk, sebaiknya pendataan untuk kartu tani tidak dilanjutkan. Pendataan ini bisa digunakan untuk memastikan penerima PKH, KIS, KIP, JKN dan AUTP agar tidak salah sasaran.
liputan6.com


















