BERITA INDEX BERITA

Sejahterakan Pahlawan Pangan

Pangan & Energi | DiLihat : 1034 | Jumat, 10 November 2017 10:12
Sejahterakan Pahlawan Pangan

Setiap 10 November, rakyat memperingati Hari Pahlawan. Dulu, para pahlawan telah mempertahankan kedaulatan negara yang coba dirampas kembali kemerdekaanya oleh Belanda yang membonceng sekutu di Kota Surabaya. Para pejuang dan pendiri Republik mengajarkan keyakinan kuat rakyat bahwa kemerdekaan harus diraih, direbut, dan diperjuangkan. Tidak ada kemerdekaan, tanpa perjuangan dan pengorbanan.

Pesan utama peristiwa sejarah tersebut, generasi bangsa jangan cuma ingat atau tahu nama pahlawan. Mereka jangan lupa pelajaran penting kepahlawanan yang sedia berjuang dan berkorban. Semua yang bersedia berjuang dan berkorban untuk kepentingan negara layak disebut pahlawan, termasuk para petani dan nelayan. Mereka adalah pahlawan pangan.

Membangun Indonesia berdaulat pangan untuk mencapai masyarakat sejahtera, adil, dan makmur masih jauh. Banyak prasyarat seperti butuh perjuangan dan tekad bangsa. Alhasil, hari ini baru tahap menyadari betapa besar potensi bangsa, tapi belum sampai menjadikannya anugerah dan manfaat buat rakyat.

Indonesia sebagai negara agraris, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan menggantungkan hidup pada pertanian secara luas. Hidangan di meja makan sebagai hasil olahan merupakan karya petani. Tanpa jerih payah mereka berbagai menu tidak tersaji.

Menumbuhsuburkan kebanggaan produk dalam negeri hasil karya petani merupakan upaya dan langkah menanamkan jiwa nasionalisme. Rasa bangga akan menumbuhkan cinta. Upaya menggelorakan bangga dan cinta produk pertanian harus selalu didorong.

Pertanian selalu disebut menjadi andalan dan memegang kunci penting pembangunan. Produknya untuk seluruh bangsa.

Melalui hasil tangan petani, produk olahan pertanian dihasilkan. Sebut, aneka ragam makanan olahan dan bahan menu kuliner semua adalah berbahan dasar dari lahan pertanian dan petani sebagai pelaku utamanya. Demikian juga dengan berbagai restoran dari sederhana hingga berbintang, bahan bakunya dihasilkan oleh petani.

Namun, kondisi umum sumber daya pertanian masih muram. Sensus Pertanian BPS terakhir mencatat jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) pada 2013 sebanyak 26,14 juta atau turun 5,10 juta dari 10 tahun sebelumnya. Artinya, RTP rata-rata turun sebesar 1,77 persen atau sekitar 500.000 per tahun.

Ini sebagian karena berkurangnya petani gurem. Mereka yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare. Pada 2013, jumlah tersisa 14,25 juta rumah tangga. Ini turun 4,22 juta dari sensus 2003 sebanyak 19,02 juta. Mereka beralih profesi. Lahan garapan beralih fungsi atau dijual. Meskipun sawah semakin menyusut, petani dituntut bekerja keras untuk bangsa.

Swasembada

Menyejahterakan petani sebagai pahlawan untuk penyediaan pangan perlu diwujudkan guna mencapai target swasembada pangan nasional. Target ini lebih diarahkan kepada petani untuk dapat menaikkan produktivitas melalui intensifikasi. Perlu juga meningkatkan jumlah musim tanam. Jangan hanya tiga kali dua tahun di sawah irigasi teknis.

Ke depan, minimal harus dua kali setahun. Bahkan, kalau memungkinkan tiga kali musim tanam setiap tahun, sedangkan di tempat lain, misalnya, pembangunan hutan tanaman industri perlu dilakukan dengan sistem agroforestri dengan padi, sementara di perkebunan karet dan sawit melalui tumpangsari. Hal ini dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun pertama masih dimungkinkan. Saat panen tiba petani dihantui kecemasan permainan harga karena jatuh dan murah. Pada musim panen raya harga pun mengikuti pasar menjadi murah. Ini harus menjadi perhatian pemerintah.

Perlu jaminan seluruh hasil panen dapat dibeli Bulog. Bahkan perlu dipikirkan subsidi pada produk hasil pertanian, bukan waktu proses produksi. Gabah hasil panenan dihargai lebih, sebagai bentuk perhatian ke petani. Di sisi lain kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan), serta nama lainnya seharusnya merupakan kelompok riil.

Artinya, petani bergabung dalam sebuah organisasi melakukan kegiatan sesuai rencana kerja organisasi secara bersama. Pengurus diharapkan menjadi dinamisator anggota dalam menjalankan roda organisasi. Namun, ini belum sepenuhnya berjalan.

Kelompok tani harus diperkuat dan diberdayakan secara maksimal. Mereka harus berjalan sesuai dengan aturan. Pertemuan berjalan secara rutin, tidak sesempatnya karena perkembangan dan dinamika di luar kelompok. Kelompok tani harus semakin kuat sehingga mampu menjawab permasalahan. Sistem ijon harus dipangkas dan dihentikan karena menjerat petani.

Ketidakberdayaan akhirnya terjebak dalam sistem ini. Perlu upaya bersama, diawali dari kelompok terlebih dulu. Tentunya juga dukungan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Namun, rasanya belum cukup. Harus ada dukungan lain sehingga permodalan kelompok semakin baik. Permodalan kelompok menjadi catatan pengembangan kelompok saat ini. Kelompok harus aktif dan mampu menjawab tantangan.

Bahkan akan lebih baik kelompok petani menjadi koperasi, sehingga memiliki daya tawar kuat kepada pihak lain sehingga dapat memotong sistem ijon dan memiliki nilai jual tinggi saat panen. Munculnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau Badan Usaha Milik Petani (BUMP) di beberapa tempat diharapkan bisa menjadi sebuah terobosan pengembangan kelembagaan petani.

Memiliki rasa bangga dan cinta atas produk sendiri dan dalam negeri menjadi hal penting. Perlu upaya menumbuhkembangkan sikap dan komitmen secara bersama, baik pribadi maupun lembaga, baik pemerintah, swasta, dan lainnya. Sikap ini menunjukkan keberpihakan kita semua dalam menghargai karya anak bangsa.

Menyejahterakan petani dengan cara menghargai jerih payah dan kerja kerasnya patut dilakukan. Karena tanpa jasa dan dedikasi mereka, warga tidak dapat menikmati makanan. Petani adalah pahlawan pangan. Selayaknya mendapat tanda jasa seperti guru dalam mencerdaskan warga. Kalau guru mendapat sertifikasi, tidak salah petani pun juga mendapatkannya. Saatnya bangga dan cinta petani. Kita berharap komitmen dan keberpihakan pemerintah kepada petani dapat terealisasi secara nyata guna menghidupkan kejayaan negeri agraris. 

Oleh Deslina Zahra Nauli

koran-jakarta.com


Scroll to top