BERITA INDEX BERITA

Gunakan Barang Bekas, Sekali Panen Dapat Rp 800 Ribu Melihat Budadaya Tanaman dengan Sistem Hidroponik di Tarakan

Humaniora | DiLihat : 1311 | Rabu, 18 Oktober 2017 13:25
Gunakan Barang Bekas, Sekali Panen Dapat Rp 800 Ribu Melihat Budadaya Tanaman dengan Sistem Hidroponik di Tarakan

Bertani dengan menggunakan sistem Hidroponik menjadi tren dilakukan masyarakat Tarakan saat ini. Selain praktis dan efisien, hasilnya juga bernilai ekonomis.

PEKARANGAN rumah Sigit Rianto di Jalan Kusuma Bang, Gang Turi RT VIII RW IV Nomor 10 Kelurahan Gunung Lingkas, Kecamatan Tarakan Timur, dipenuhi dengan tanaman selada, dengan usia bervariasi, mulai seminggu hingga hampir siap panen kurang lebih dua minggu.

Uniknya, tanaman selada itu tidak tumbuh di tanah. Melainkan pada tempat-tempat yang sudah disiapkan sedemikian rupa dengan menggunakan metode khusus, yakni sistem hidroponik.

Hanya memanfaatkan halaman rumah 4 x 4 meter, Sigit sudah bisa bertani tanpa harus mencangkul dan menggali tanah. Cukup memanfaatkan barang-barang bekas seperti botol air mineral dan bekas gelas plastik yang dipadukan dengan pipa-pipa sebagai wadah tanaman dan saluran airnya. Tanaman ini sudah bisa tumbuh subur.

Untuk membuat green house (istilah wadah tanaman hidroponik) ini, Sigit mengaku mengeluarkan dana tidak lebih dari Rp 5 juta. Namun, bisa digunakan sepanjang kebutuhan petani sehingga tidak perlu diganti-ganti lagi setelah panen.

“Ini untuk beli kayu, pipa sama keperluan pompa, semuanya kurang lebih Rp 3,5 juta,” ujarnya ditemui di sela-sela memantau kondisi tanamannya, Sabtu (14/10).

Hasilnya cukup lumayan. Menurut Sigit, untuk sekali panen dengan jangka waktu kurang lebih dua minggu, ia bisa meraup pendapatan bersih Rp 800 ribu. Sehingga jika sebulan ia bisa menghasilkan Rp 1,6 juta.

Ini dianggapnya sangat ekonomis, karena tanpa mengeluarkan tenaga ekstra, hanya butuh kesabaran dan keuletan dalam perawatan tanamannya.

Tanaman yang dihasilkannya pun tidak kalah kualitas dengan selada yang ditanam menggunakan pola biasa (bercocok tanam). Bahkan, Sigit memperkirakan harganya di pasaran bisa lebih mahal, karena kualitasnya lebih baik.

Hanya saja, ia belum mau menaikkan harga semaunya, karena masyarakat Tarakan cukup hemat dalam berbelanja. Harga selada di pasar-pasar hanya berkisar Rp 5 ribu per ikat. Lebih dari itu, warga terkadang enggan membeli.

“Kami agak susah kalau menaikkan harga, karena kebiasaan orang belanja di pasar sering menawar. Jadi kami kasih harga di pertengahan saja,” paparnya.

Lalu, dari mana Sigit bisa mendapatkan ilmu bertanam dengan sistem hidroponik ini? Ia mengaku memulai usaha ini sejak 3 bulan lalu dengan bergabung di komunitas Belajar Bersama Hidroponik dan Aquaponik Tarakan (BB HAT).

Dari komunitas inilah ia mengenal cara bertanam dengan sistem hidroponik hingga mampu berjalan sampai sekarang. Selama tiga bulan, Sigit mengaku sudah hampir kembali modal.

Memang awalnya saja yang terkesan butuh anggaran cukup besar. Namun, setelah berjalan sudah tidak membutuhkan banyak modal lagi. Hanya untuk membeli bibit dan biaya perawatan saja jika terjadi kerusakan pada green house-nya.

Ke depan, ia berniat mengembangkan tanaman ini dengan jenis lain. Sementara ini, Sigit hanya menanam selada melihat kebutuhannya yang tinggi. Biasanya, selada banyak dibutuhkan pedagang kuliner seperti kebab dan burger. 

Ketua BB HAT Muhammad Mezrani mengungkapkan, cara tanam sistem hidroponik ini menggunakan air bernutrisi dengan didukung sirkulasi air yang lancar menggunakan pompa akuarium. Sehingga akar dapat terus mendapatkan asupan makanan untuk tumbuh kembang tanaman. 

Menurutnya, banyak keunggulan yang didapat dari tanaman hidroponik ini. Di antaranya, rasa yang lebih manis dan renyah, serta lebih tahan lama jika di simpan di dalam lemari pendingin. Bahkan, tanpa alat pendingin pun, selagi akarnya masih direndam di air, bisa bertahan sampai dua hari dengan kondisi daun yang segar.

“Insya Allah ini juga aman (dari sarang nyamuk), karena airnya kan mengalir, bukan genang. Kalaupun ada, bisa kita sikapi dengan ikan-ikan kecil, itu bisa kita masukan ke tandonnya,” sambung Memed –sapaan akrabnya.

Dari bertanam hidroponik ini, komunitasnya sudah mampu melayani kebutuhan masyarakat mencapai 30 ikat per hari. Selada ini disuplai ke pedagang kaki lima maupun restoran-restoran dan hotel yang menyediakan makanan luar negeri.

Selain selada, komunitasnya juga ada yang menanam sawi Samhong, karena melihat potensi pasar di Tarakan cukup terbuka. Seperti pedagang eskrim yang menggunakan bahan campuran sawi Samhong.

Komunitas ini sendiri terbentuk pada 2016 lalu. Berawal dari melihat cara bertanam hidroponik saat dipamerkan di Tarakan kala itu. Karena menarik, Memed kemudian membentuk komunitas untuk mempelajarinya. Hingga saat ini, komunitas BB HAT sudah memiliki 20 anggota. (*/fen)

prokal.co


Scroll to top