BERITA INDEX BERITA
Sampah dalam Janji Pilkada Prabumulih 2024 (1-bersambung)

Syamsul Asinar Radjam
Menekuni praktik, sains dan gerakan agroekologi
bersama Institut Agroekologi Indonesia (INAgri)
PERMASALAHAN sampah sepertinya dianggap remeh sepele oleh
pemimpin Kota Prabumulih selama 5 - 10 tahun terakhir. Bahkan mungkin masih
dianggap kurang penting oleh para calon pemimpin Kota Nanas yang saat ini
sedang bertarung di Pilkada 2024..
Tanpa perlu membandingkan dengan problem sampah global,
sepanjang tahun 2023 - 2024 ini saja persoalan sampah di kota Prabumulih
berkali-kali menjadi sorotan banyak kalangan. Banyaknya tempat pembuangan
sampah liar berkali-kali cukup viral. Di pengujung tahun 2023, tempat
pemrosesan akhir (TPA) sampah 3 kali terbakar.
Bicara TPA, merujuk dokumen studi analisis mengenai dampak
lingkungan (AMDAL) tahun 2011, dengan luas 8,8 hektar, daya tampung TPA Kota
Prabumulih hanya mampu untuk dioperasikan selama 5 tahun. Padahal, saat studi
Amdal dilakukan produksi sampah di kota Prabumulih hanya sebesar 441 meter
kubik per hari.
Jika dikonversikan ke tonase, maka saat itu produksi sampah
harian kota Prabumulih sebesar 163,7 ton per hari. Tentu konversi ini belum
terlalu akurat, tergantung jenis sampah dan faktor lain. Meski demikian,
artinya, TPA Kota Prabumulih saat ini sudah kelebihan beban. Overloaded!
Prabumulih darurat sampah.
Sayangnya, isu sampah tidak muncul dalam debat publik
pertama pasangan calon Wali kota dan Wakil Wali kota Prabumulih Tahun 2024.
Baik dalam paparan visi misi, maupun tanya jawab antar paslon. Padahal isu
sampah ini bisa menjadi menu menarik dalam tema pengelolaan sumber daya alam
dan lingkungan, kesehatan, bahkan pertumbuhan ekonomi.
Janji dan Komitmen
Ketiga pasang kandidat dalam laga Pilkada Kota Prabumulih
2024 masing-masing menjanjikan program unggulan. Pasangan nomor urut 1, H Arlan
- Frangky Nasril menjanjikan 17 program. Pasangan nomor urut 2, Andriansyah
Fikri- Syamdakir Amrullah, mengusung 24 janji. Pasangan nomor urut 3, Suryanti
Ngesti Rahayu – H Mat Amin, hanya berencana melanjutkan program kepala daerah
sebelumnya dengan dua tambahan program baru.
Dari semua paslon, hanya nomor urut 2 yang secara eksplisit
menjanjikan program ‘Pengelolaan sampah yang ramah lingkungan”. Meski masih
perlu dibedah lebih dalam, pemilihan diksi ‘ramah lingkungan’ bolehlah dianggap
tawaran yang lebih konsepsional ketimbang pengolahan sampah selama ini yang
hanya sebatas kumpul-angkut-buang.
Kondisi darurat sampah di Kota Prabumulih cukup lama menjadi
bahan kampanye pasangan nomor urut 1. Dalam pantauan penulis, sejak April 2024,
setelah hari raya Idul Fitri 1445 H. Sampah yang membludak pasca hari raya,
ditambah kemampuan pelayanan yang terbatas alat maupun biaya operasional,
diperparah dengan kondisi TPA sendiri kehabisan ruang dan infrastruktur jalan
rusak parah, membuat permasalahan sampah di kota ini semakin menjadi-jadi.
Tempat pembuangan sampah liar muncul dimana-mana. Mengganggu kesehatan dan
merusak pemandangan.
Saat itu pasangan H. Arlan dan Franky Nasril bergerak aktif
membantu membersihkan sampah yang bersebaran dan menumpuk liar. Pasangan ini
membantu pembersihan tempat pembuangan sampah liar dengan menurunkan alat berat
dan mengirimkannya ke TPA. Meski demikian, aksi bersih-bersih sampah a la
paslon nomor urut 1 ini akhirnya hanya terpantau hingga akhir Mei 2024. Mungkin
karena menyadari bahwa metode ‘kumpul-angkut-buang’ bukanlah jawaban atas
masalah sampah.
Lain lagi dengan paslon nomor urut 3. Meski tak masuk
program yang dijanjikan, penghargaan Adipura yang pernah diraih Kota Prabumulih
menjadi bahan kampanye paslon Suryanti Ngesti Rahayu – H Mat Amin. Disebutkan
Kota Prabumulih memiliki prestasi karena meraih penghargaan Adipura 7 kali
berturut-turut selama masa pemerintahan Ridho Yahya, mantan walikota yang juga
suami dari Suryanti Ngesti Rahayu.
Dalam catatan penulis, sebenarnya Kota Prabumulih
dianugerahi Piala Adipura sebanyak 8 kali berturut-turut. Bahkan 9 kali jika
sertifikat Adipura yang diterima Kota Prabumulih tahun 2011 boleh
diperhitungkan. Piala Adipura pertama diraih Kota Prabumulih pada tahun 2012,
pada masa kepemimpinan Rahman Djalilie sebagai walikota dan Ridho Yahya sebagai
wakil walikota. Penghargaan ini kemudian berlanjut hingga 2019 ketika
Prabumulih dipimpin Ridho Yahya dan Andriansyah Fikri sebagai walikota dan
wakil walikota.
Pertanyaan lanjutan, kenapa penghargaan Adipura kemudian
gagal diraih Kota Prabumulih sejak 2020 hingga saat ini? Apa yang salah?
Jawaban paling mudahnya adalah kurangnya komitmen pemerintah kota dalam proses
pembangunan dan pembangunan dengan menerapkan prinsip tata kepemerintahan yang
baik pada aspek pengelolaan lingkungan hidup perkotaan, dimana kebersihan
hanyalah salah satunya.
Yang sudah pasti, tahun 2024 ini, Kota Prabumulih tak masuk
pantauan Adipura karena 2 hal. Pertama, pengolahan sampah di TPA masih dikelola
dengan sistem open dumping, hanya ditumpuk tanpa perlakukan apa pun. Kedua,
kejadian kebakaran berulang yang terjadi di TPA.
Meski hanya salah satu aspek dalam pengelolaan hidup, yang
jelas sampah kota Prabumulih sudah pada level darurat sampah, perlu tindakan
cepat, akurat, dan didukung penuh seluruh pihak. Tidak cukup hanya mengandalkan
tindakan penanganan (kumpul-angkut-buang ke TPA), yang memerlukan anggaran
besar dan perluasan lahan TPA.
Jika hanya dianggap sepele seperti yang terkesan selama ini,
atau pemerintah sekadar tutup mata pada perkara ini, maka tidak akan ada
perubahan dan justru jadi bom waktu yang bisa meledak pada waktunya.













