BERITA INDEX BERITA
Tantangan Pertanian Organik
Pangan & Energi | DiLihat : 1786 | Selasa, 26 Februari 2019 | 10:22

Tak mudah untuk memulai pertanian organik. Seringkali cibiran dan omongan orang yang tidak yakin berseliweran mencoba melemahkan. Namun, Sukardi bukanlah sosok yang mudah patah semangat.
Dia justru menjadi pelopor pertanian organik di Jalan Pasar Kawat, Desa Karanganyar, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang dari akhir tahun 1980-an hingga sekarang dan mendapatkan label sertifikasi organik.
Dia memulai sendirian dengan mengolah sekitar tiga hektare lahan padi milik mertuanya. Sukardi bisa menginspirasi petani lain untuk berorganik ria hingga.
Dan, sekarang Sukardi sudah mengolah lahan seluas 23 hektare dan sudah mendapat sertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (Lesos).
Dia tidak goyah meskipun hasil panen dengan organik saat itu tidak sebanyak dengan pola yang kebanyakan dilakukan petani.
Jika dengan pupuk dan pestisida kimia bisa menghasilkan lima ton, dia tidak merasa rugi hanya bisa menghasilkan 3,5 ton per hektare. Selama bertahun-tahun dia sendiri melawan 'hegemoni' pertanian nonorganik. Tidak hanya dirinya yang dihina, disepelekan dan diejek dengan caranya bertani.
"Pertanian yang baik yang memerhatikan iklim, yang dalam bahasa Jawa disebut pranoto mongso, menjaga keseimbangan alam, dan lain sebagainya, dia pun semakin tidak tergoyahkan untuk terus berorganik," jelasnya.
Tantangan tidak hanya dalam budidayanya. Menurut Sukardi, dalam memasarkan hasil panen tidak jarang harus berhadapan dengan cibiran. Namun seiring waktu, dia bisa membuktikan bahwa padi organis tidak bisa dipandang remeh.
Dia membandingkan, jika saat itu dia kesulitan untuk menjual walaupun dengan cara ?door to door', saat ini dia kewalahan memenujhi permintaan konsumen. Sampai saat ini Kelompok Tani Mekar Pasar Kawat yang diketuainya baru bisa memproduksi 1,5 ton per bulan beras organis varietas pandan wangi dan ciherang.
Sedangkan permintaan kini sudah mencapai 3,5 ton per bulan. Menurutnya, seiring waktu, situasi berubah. Negara atau pemerintah sudah hadir membantu petani.
Kelompoknya diberi fasilitas penggilingan padi dengan kapasitas 600-700 kg per jam, lantai jemur 6x30 meter per segi, gudang penyimpanan gabah 8x11 meter per segi, sawong pertemuan petani, rumah kompos organik, dan alat transportasi untuk mengambil bahan baku serta empat ekor sapi.
Saat ini, sudah ada 23 hektare di Desa Karanganyar, pertanaman padi yang mendapatkan sertifikasi organik. Dikatakannya, untuk memproduksi beras organis, bukanlah perkara mudah. Harus melewati syarat-syarat tertentu.
Beberapa syarat yang harus dipenuhi mulai dari internal control system (ICS), memiliki pencatatan pengolahan lahan, air, pemupukan, penggunaan pestisida nabati, pengendalian hama secara alami dan lain sebagainya. Begitu juga, produknya bisa disebut organis setelah dua tahun dikelola secara organik.
"Organik ini lebih sehat dan lebih murah karena misalnya membuat pupuk organik cair dan kompos bisa dilakukan sendiri, pestisida nabati juga bisa, semua diambil dari alam. Lalu misalnya soal air irigasi, kita menggunakan enceng gondok untuk menetralisirnya," katanya.
Lalu, dalam pengendalian hama pun harus menggunakan cara organik. Misalnya pestisida nabati, menggantikan pestisida kimia. Dia menggunakan daun dan biji mimba. Tanaman mimba menurutnya berasal dari India namun pertanamannya sudah menyebar di mana-mana dengan mudah.
Daun mimba memiliki tekstur halus dengan bentuk runcing dan bergerigi dan rasanya pahit. Di Kelompok Tani Mekar Pasar Kawat yang diketuainya, petaninya menggunakan daun dan biji pohon mimba untuk bahan baku pestisida nabati.
Menurutnya, pestisida nabati ini efektif untuk membasmi serangan hama wereng dan kutu. Cara membuatnya, daun atau bijinya ditumbuk dengan kasar dengan alu kemudian direndam dalam air.
Kalau mau membuat 10 liter pestisida nabati, menurut Sukardi, dibutuhkan satu kilogram daun mimba dan bijinya, dicampur dengan air cucian beras satu liter.
"Kemudian difermentasi selama empat sampai lima hari. Setelah itu disaring, airnya bisa disemprotkan ke tanaman. Dan dalam beberapa hal bisa digunakan untuk obat darah tinggi dan kolesterol," katanya. (dewantoro )
medanbisnisdaily
















