BERITA INDEX BERITA

Disiapkan Perpres, Industri Pangan Harus Serap Bahan Baku Lokal Hingga 20%

Pangan & Energi | DiLihat : 1709 | Jumat, 16 November 2018 | 11:10
Disiapkan Perpres, Industri Pangan Harus Serap Bahan Baku Lokal Hingga 20%

Bogor - Upaya meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal perlu terus diupayakan. Kementerian Pertanian mengusulkan kewajibkan penggunaan bahan baku lokal pada industri pangan sebesar 10%-20%. Regulasi tersebut dimaksudkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) yang siap disampaikan kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi menyatakan komoditas pangan lokal harus menjadi andalan di dalam negeri. “Kami harap ada Perpres (Peraturan Presiden) tentang kewajiban pangan dari bahan baku lokal sampai 20%,” kata Agung di Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini.

Agung mengatakan, usulan aturan itu sejalan dengan upaya Kemtan mendiversifikasi bahan baku lokal untuk komoditas tepung terigu dengan sorgum, jagung, hanjeli, modified cassava flour (mocaf) atau tepung singkong sebagai pengganti gandum impor.

Untuk memperkuat pengembangan komoditas pangan lokal, Kemtan juga akan membangun 10 industri dengan bahan baku lokal sesuai klasterisasi wilayah pada tahun depan. Selain meminta dukungan pengusaha swasta, proyek pembangunan 10 klaster bahan baku lokal juga telah mendapatkan restu Dewan Perwakilan Rakyat. “Tetapi tidak semuanya berasal dari APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara),” ujar Agung.

Alasannya, kontribusi industri pangan kepada pertumbuhan ekonomi mencapai 6,13%. Terlebih. produksi kelima komoditas masih di bawah satu juta ton dengan rincian produksi sagu sebesar 400 ribu ton, mocaf 20 ribu ton, serta hanjeli dan sorgum dengan angka produksi yang masih relatif kecil.

Di sisi lain, kalangan pelaku usaha masih sangat berharap agar pasokan bahan baku lokal tersebut tetap tercukupi.
Maria Irene selaku Marketing Manager PT Maxindo Karya Anugerah (Maxindo) mengatakan seiring dengan peningkatan ekspor, pihaknya semakin kesulitan bahan baku singkong dan umbi-umbian. Maxindo sendiri merupakan eksportir olahan singkong dan umbi-umbian ke Amerika Serikat, Uni Eropa dan Tiongkok.

“Kami dari pelaku industri pangan olahan sangat berharap agar ketersediaan bahan baku selalu ada. Tahun ini saja, kami kesulitan mendapatkan pasokan singkong,” ujarnya.

Untuk mengantisipasinya, kata dia, PT Maxindo Karya Anugerah menjalin kerja sama dengan Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen), Balitbangtan, Kemtan. Kerja sama itu menjajaki produksi benih untuk mengatasi kesulitan bahan baku berupa aneka umbi-umbian.

suara pembaruan

Scroll to top