BERITA INDEX BERITA

Diekspor ke India, Banyak Petani Mengalihkan Tanaman Kebunnya

Pangan & Energi | DiLihat : 2152 | Rabu, 3 Mei 2017 13:07
Diekspor ke India, Banyak Petani Mengalihkan Tanaman Kebunnya

INDOPOS.CO.ID - Harga komoditi kelapa sawit dan karet di Provinsi Jambi hingga kini belum juga menunjukkan peningkatan secara signifikan. Tentunya ini membuat petani harus mencari alternatif tanaman lain. Pinang salah satunya.

BUDIDAYA tanaman pinang memang belum sengetren kelapa sawit atau karet yang perkebunannya tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jambi (Minus Kerinci dan Sungai Penuh). Masih sangat sedikit petani yang menggantungkan hidup dari perkebunan ini. Bahkan, hanya di dua kabupaten saja perkebunan pinang menjadi salah satu mata pencaharian penduduknya, yakni di Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) dan Tanjab Timur.

Padahal, tanaman pinang merupakan salah satu komoditas tanaman terbaik dengan prospek penjualan yang boleh dikatakan mewah saat ini, khususnya bagi petani di Tanjab Barat. Dengan harga saat ini yang terus meningkat, gairah para petani, tengkulak hingga pengekspor pinang semakin bertambah.Ibarat menabung emas, lahan tanaman pinang setiap tahunnya meningkat di Tanjab Barat. Data peningkatan luas lahan dan jumlah produksi pertahunnya didapat pada statistik Dinas Perkebunan Kabupaten Tanjab Barat. Data itu menujukkan pada tahun 2015 ada 9.882 hektare (ha) kebun pinang, kemudian meningkat pada tahun 2016 menjadi 10.524 ha. Namun sayangnya, untuk produksi tahun 2015 yakni 10.518 ton tapi turun pada tahun 2016 menjadi 9.426 ton.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Tanjab Barat Melam Bangun menyampaikan, dalam laporan yang ia paparkan ada kecenderungan penambahan lahan dan sedikit penurunan produksi sekitar 1.092 ton pada 2016.‘‘Dari 13 kecamatan paling banyak kebun pinang dan produksinya ada di Kecamatan Pengabuan,’‘ ujarnya.

Sementara itu, untuk jumlah petani pinang di Tanjab  Barat, pada 2015 ada 7.485 KK dan tahun 2016 ada 7.853 KK.‘‘Berkebun pinang dianggap petani kita lebih menjanjikan, makanya banyak petani mengalihkan kebunnya dari tanaman lama ke tanaman pinang, saat ini trendnya begitu,’‘ paparnya.

Ke mana produksi pinang dari petani dibawa? Pihaknya mengatakan bahwa pinang tersebut dibawa ke luar negeri dengan tujuan negara India. Biji pinang yang diperdagangkan terutama adalah yang telah dikeringkan, dalam keadaan utuh atau dibelah. Di negara-negara importir, seperti India, Singapura dan negara lainnya, biji pinang diolah menjadi semacam permen sebagai makanan kecil.‘‘Yang jelas ke India, yang lainnya juga ada ke Singapura, dan kabarnya ada dibuat permen, pewarna kain, pewarna cat, dan beberapa produk lainnya,’‘ pungkasnya.

Tak jauh berbeda, pernyataan dari Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Tanjabbar Syafriwan. Menurutnya, untuk pinang merupakan salah satu komoditas andalan dari Kabupaten Tanjab Barat. Untuk pemasaran pinang, sejauh ini  tidak ada masalah.‘‘Pemasaran kita tak ada masalah. Jalur perdagangan pinang itu kan, dari petani ke pengepul ke agen dan dari agen diekspor. Itu salah satu komoditi andalan Tanjabbar,’‘ katanya.

Untung, salah satu petani pinang di Desa Semau, mengatakan, dirinya sangat dominan bertanam pinang di kebunnya. Karena harga pinang sangat menggiurkan dan mencapai 22 ribu per kilonya.‘‘Harga pinang, kering (10) harga per kilo 22 ribu. Pinang belah jemur sehari Rp 16 ribu. Ini harga pinang baru naik, saya paling-paling panen sekuintal atau dua kuintal,’‘ ungkapnya.

Untuk masa tanam, pinang yang sudah menghasilkan adalah pinang yang sudah berumur 4 tahun ke atas. Bisa dipanen sebulan sekali untuk skala besar atau setiap hari dengan skala kecil.‘’Jika lagi musim penghujan, untuk 1 ha lahan perkebunan pinang bisa meghasilkan 1 ton buah, sedangkan kalau lagi trek, palingan 200 kg sebulan,’’ jelasnya.

Sementara itu, petani lainnya Teguh menyampaikan bahwa memang saat ini trend pinang agak naik. Tapi buah saat ini berkurang. ‘‘Pinang naik harganya, tapi buah berkurang,’‘ ujarnya.

sumber : indopos.co.id


Scroll to top