BERITA INDEX BERITA

Kental dengan Budaya, Miliki Wisata Air Panas Melihat Potensi Desa Wisata Metun Sajau

Potensi Desa | DiLihat : 1694 | Jumat, 25 Agustus 2017 14:20
Kental dengan Budaya, Miliki Wisata Air Panas Melihat Potensi Desa Wisata Metun Sajau

Tahun 2016 lalu Kementerian Pariwisata RI menetapkan Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur sebagai Desa Wisata di Kabupaten Bulungan.Penetapannyapun harus melalui pertimbangan hingga ditetapkannya sebagai Desa Wisata.

SOPIAN HADI

Desa Metun Sajau merupakan satu dari delapan desa yang ada di bawah pemerintahan Kecamatan Tanjung Palas Timur, dengan penduduk mayoritas etnis Dayak Kenyah Bakung. Waktu tempuh dari Tanjung Selor, Ibu Kota Kabupaten Bulungan sekaligus Ibu Kota Provinsi Kaltara ke Metun Sajau sekira satu jam. Namun waktu tempuh bisa lebih cepat jika kondisi jalan yang sudah beraspal mulus.

Untuk sampai ke desa yang merayakan ulang tahunnya pada 1 November 2013 itu, terlebih dulu harus melewati Desa Wonomulyo. Metun Sajau berjarak sekira 2-4 kilometer dari daerah yang juga disebut Sajau Trans itu. Dipintu gerbang desa yang terdiri sekira 4 RT ini disambut gapura yang bertuliskan “Selamat Datang di Desa Wisata Metun Sajau”.
Didukung dengan jalan lingkungan yang hampir mulus dengan aspal, memudahkan para wisatawan masuk ke daerah yang sebelumnya pernah diusulkan era Bupati Bulungan H.Budiman Arifin sebagai Desa Budaya itu.

Hanya sejauh ini untuk akses telekomunikasi sedikit sulit.”Kita ikut tower tetangga (Wonomulyo), jadi jaringannya hilang-hilang,” kata Karmianus, Kepala SMPN 1 Metun Sajau,Tanjung Palas Timur kepada Radar Kaltara.

Namun upaya pembenahan sejak ditetapkan sebagai

Desa Wisata tetap dilakukan. Tahap awal, desa yang dipimpin Pj Kepala Desa, Suto Lahang ini menggelar upacara bendera HUT ke-72 RI berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini warga desa mengangkat tema budaya. Artinya, peserta menggunakan baju adat, begitu juga dengan musik yang mengiring upacara menggunakan alat musik tradisional kulintang.

Tidak hanya itu, atraksi yang ditampilkan di acara yang berlangsung di lapangan sepak bola desa ini juga diisi dengan tarian khas warga Metun Sajau, yakni Tari Perang.

Pj Kepala Desa Metun Sajau, Suto Lahang mengatakan, kegiatan yang melibatkan masyarakat menggunakan pakai adat ini untuk melestarikan budaya yang ada di Metun Sajau, terlebih sudah ditetapkan sebagai Desa Wisata.

“Kami ingin generasi muda dapat melestarikan budaya-budaya itu, terutama dalam perpakaian,” katanya didampingi Karmianus, yang juga sebagai pengurus seksi penyambut tamu di kepengurusan Desa Wisata Metun Sajau.

Sehingga tak diherankan dalam upacara lalu, berbagai macam pakaian adat digunakan baik pria maupun wanita. Untuk wanita ada tiga jenis warna pakaian yang digunakan, dan warna itu memiliki arti sebagai pembeda generasi muda dan generasi tua.

Pakaian warna kuning menandakan orang yang sudah tua, warna hijau sedang atau dewasa, sedangkan warna hitam yang dihiasai manik-manik menandakan usia remaja atau anak-anak.

”Budaya-budaya itu yang harus kami pertahankan, jangan sampai hilang,” ujarnya.

Selain pakaian, budaya tari-tarian dan cara menyambut tamu juga tetap dipertahankan. Saat ini budaya-budaya itu masih melekat di masyarakat. Tari-tarian tradisional yang diperagakan tua muda selalu ditampilkan, terlebih ada tamu dari luar dan even-even besar. Begitu juga dengan tradisi menyambut tamu. Ada perpedaan cara menyambut tamu kehormatan, masyarakat lokal dan luar Bulungan. Jika tamu yang datang adalah lokal, masyarakat diundang untuk menyambut.

Tapi tidak semua warga, kecuali warga dari luar Bulungan semua masyarakat libatkan untuk menyambut dengan berpakaian adat lengkap.”Tradisi perpakaian saat menanam juga tetap dipertahankan,” katanya.

Selain sudah menjadi tradisi leluhur yang harus dipertahankan, diharapkan juga bisa menjadi objek wisata bagi yang berkunjung ke Metun Sajau sehingga dapat memperbaiki perekonomian masyarakat dari sektor lain, selain pertanian.

Karena itu, potensi yang ada terus dikembangkan salah satunya hobi membuat  ukiran dan mandau (sajam khas Dayak) akan dikembangkan ke depan menjadi suvenir yang bisa dijual ke wisatawan.”Jadi ke depan kami juga fokus untuk pembuatan suvenir,” sebutnya.

Karena saat ini daerah yang warganya sudah berbaur dengan etnis lainnya, belum memiliki anggaran untuk membenahi dan mengembangkan desa mereka.”Karena baru terbentuk Desa Wisata, kami juga belum mengusulkan bantuan karena masih menyusun program,” katanya.

“Jadi sejauh ini belum ada bantuan dana dari pemerintah pusat,” sambungnya.

Selain, wisata budaya, warga desa yang mayorita bermataoencahrian sebagai petani ini juga memiliki wisata alam yang bisa diandalkan untuk mendatangkan wisatawan ke Bulungan maupun ke Metun Sajau sendiri.

Metun Sajau memiliki wisata air terjun yang diberi nama Bumi Perkemahan Pemuda Daerah. Luas lokasi sekira 100 hektare dan sudah dienclave (dilepas) perusahaan yang ada beroperasi di sekitar air terjun.

Selain itu juga ada air panas, ini yang ingin dikerja samakan dengan pemerintah agar bisa mengelola lokasi wisata alam itu. “Apakah nanti dibuatkan kolam pemisah antara air panas, dan air bisa, atau bagiamana,” ungkapnya.

Karena itu masyarakat tak sanggup mengelolaanya karena membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Lokasinya pun sudah enclave oleh perusahaan. “Kalau masalah akses jalan menuju ke sana (air panas) sudah bagus, dibangun oleh perusahaan,” jelasnya.

Untuk diketahui, tahun 2016 lalu Metun Sajau dikunjungi rombongan wisatawan dari Malaysia, Brunei Darusallam dan Australia. Tahun ini rencananya rombongan wistawan dari 11 negara juga akan berkunjung ke Bulungan. Hanya saja belum dapat dipastikan apakah berkunjung ke Metun Sajau atau daerah lain. “Mungkin akan disurveu dulu,” sebutnya.

Pengurusa Desa Wisata Metun Sajau juga berencana melakukan studi banding ke beberapa daerah, untuk melihat langsung bagaimana mengelola Desa Wisata. “Kita akan belajar mana yang bisa diterapkan di Metun Sajau akan kami terapkan, karena itu tahun ini kami susun rencananya dulu,” ujarnya.(***)

prokal.co


Scroll to top