BERITA INDEX BERITA
Kemtan Kembangkan Teknologi Drone untuk Pertanian

Sragen - Di hari terakhir kunjungannya ke sejumlah lahan produktif sawah siap panen, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencoba mengoperasikan mesin drone penebar pupuk cair maupun insektisida.
Hal itu dilakukan Menteri Pertanian saat mengunjungi di persawahan Candi, Kelurahan Plumbungan, Kecamatan Karang Malang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada Rabu (24/1) pagi.
"Drone itu menarik dan kita akan kembangkan. Kita kembangkan mekanisasi, tanpa teknologi tidak mungkin swasembada pangan, produktivitas meningkatkan, dan tidak mungkin efisien," ujar Andi Amran menanggapi pertanyaan Suara Pembaruan di tengah lahan sawah.
Ia menyebutkan selama ini kemtan memfasilitasi anggaran pada peningkatan produksi, perbaikan infrastruktur, pascapanen. Contohnya pengadaan alat pertanian naik 2.000 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Alat mesin pertanian bisa menurunkan biaya produksi 40 persen, menaikkan indeks pertamanan, dengan bibit unggul bisa meningkatkan produksi 30 persen. Luar biasa teknologi ini, kalau mau bersaing dengan negara lain kita harus menggunakan teknologi," tambahnya.
Menteri Pertanian menegaskan selama empat tahun pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla dirinya sudah melakukan revolusi pertanian dengan mengutamakan sistem mesin pertanian demi mengejar produktivitas lahan serta mencapai visi Indonesia lumbung pangan dunia pada 2045.
"Biaya perjalanan dinas Rp 800 miliar itu saya coret di anggaran kementerian, lebih baik saya gunakan untuk membeli alat traktor dan mesin pertanian serta pengembangan teknologi pertanian," tegas Andi Amran Sulaiman.
Terkait kondisi pertanian di Jawa Tengah ia yakin akan ada 300.000 hektar melakukan panen menghasilkan 1,8 juta ton gabah kering atau 900.000 ton beras. Dengan konsumsi masyarakat Jawa Tengah 260.000 ton beras per bulan, kondisi masih surplus.
"Setelah Jawa ini saya akan melanjutkan kunker musim panen raya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Jadi jangan risau kan lagi stok beras nasional. Kita itu panen raya parabolik, Februari Maret, April. Paling tinggi di bulan Maret, jika sudah masuk panen tidak akan naik lagi harganya. Sekarang bagaimana kita menjaga agar hasil petani tidak terlalu jatuh harganya agar mereka tidak rugi," tutup Mentan.
Suara Pembaruan
















