BERITA INDEX BERITA
Kopi Biji Salak Kiebae: Formula Pas dari Proses Sangrai

Bukan hanya daging salak yang bisa dinikmati. Berkat inovasi Eko Yulianto, biji salak dapat diseruput dalam bentuk minuman kopi. Inovasinya merupakan hasil eksperimen selama setahun.
Sejak masih berstatus mahasiswa di sebuah kampus di Wonosobo, Eko bereksperimen dengan bahan baku salak. Misalnya, dalam bentuk manisan. Maklum, 80 persen komoditas petani di tempatnya tinggal adalah salak. Jumlahnya sangat melimpah saat panen.
Dia menuturkan, saat kuliah, dirinya sudah mencoba usaha kecil-kecilan. Modalnya tidak terlalu besar. Eko membuat manisan salak. Sayang, usahanya tidak mulus lantaran fokus utamanya adalah lulus kuliah. Setelah lulus kuliah pada 2010, Eko bekerja di salah satu bank BUMN di kotanya. ’’Saya kerja di bank hanya bertahan tiga tahun,’’ ujarnya.
Eko memutuskan resign karena tidak betah. Dia tidak punya banyak waktu bersama keluarga gara-gara lama berada di kantor. ’’Sejak pagi sampai malam hanya dengan nasabah,’’ katanya.
Eko juga memiliki pengalaman saat masih tinggal serumah dengan ayahnya. Dalam seminggu, dia tidak bertemu dengan ayahnya akibat banyaknya pekerjaan di kantor. Pulang selalu larut malam. Karena itulah, Eko enggan bekerja kantoran lagi.
Setelah resign pada akhir 2013, Eko kembali mengolah salak. Dia terus berupaya membuat sesuatu yang unik. Dalam pandangannya, perlu ada inovasi untuk menjual salak dalam bentuk lain. Hal tersebut tidak lepas dari kondisi para petani salak yang kurang beruntung saat panen raya. Harga 1 kg salak hanya Rp1.800. Di sisi lain, buah salak hanya bertahan sekitar 1 minggu. Bijinya juga dibuang begitu saja.
Dalam proses uji coba tersebut, dia tebersit untuk memanfaatkan sisa biji salak. ’’Saya berpikir gimana caranya biar biji salak itu nggak jadi sampah. Akhirnya, saya eksperimen terus,’’ tutur pria 30 tahun tersebut.
Selama setahun, Eko melakukan percobaan agar biji salak bisa dikonsumsi. Berbagai cara digunakan, termasuk meneliti isi kandungan yang dapat digunakan. Beberapa uji coba dilakukan sampai menemukan formula yang pas. ’’Apalagi, berdasar jurnal-jurnal yang saya baca lewat internet, ternyata biji salak bermanfaat untuk kesehatan. Dapat membantu mengobati hipertensi, kolesterol, dan diabetes,’’ ungkapnya.
Usahanya tidak sia-sia. Berkat ketekunan dan keuletannya, Eko akhirnya menemukan formula bahwa biji salak bisa dijadikan bahan minuman. Biji salak yang semula dianggap sampah dapat dibikin menjadi bubuk minuman yang aromanya menyerupai kopi.
Eko lantas memulai usaha pada 2015. Modalnya adalah uang Rp500 ribu pinjaman dari ibunya. Olahan biji salak tersebut dinamai Kopi Biji Salak Kiebae. ’’Saya coba biji salak dibakar tidak enak, direbus juga tidak enak. Tapi, ketika saya coba disangrai kok jadi enak, matangnya bisa sempurna,’’ jelas Eko.
Dia menjelaskan, pembuatan kopi biji salak cukup mudah. Setelah dijemur, biji salak disangrai, kemudian ditumbuk. Selanjutnya, bubuk biji salak siap diseduh dengan air panas. Kopi Kiebae 100 persen menggunakan biji salak.
Agar aroma kopi biji salak terasa nikmat, Eko mengolahnya dengan kayu bakar. Hasilnya akan berbeda bila biji salak disangrai dengan kompor gas atau minyak. Tidak seharum sangrai dengan bakaran kayu. ’’Untuk menjaga mutu dan kualitas, saya harus terjun langsung saat proses sangrai,’’ terang pria lulusan jurusan akuntansi tersebut.
Sampai saat ini, Eko dibantu tiga karyawan dalam memproduksi Kiebae. Kini Eko mampu memproduksi seribu bungkus kopi biji salak dalam sebulan. Setiap bungkusnya dibanderol seharga Rp15 ribu. Terdapat dua varian, yaitu original dan cappuccino. Produk olahan salak itu telah menembus pasar Jawa hingga Bali.
Dengan pengalaman menjadi pegawai bank, Eko memasarkan produknya secara variatif. Mulai mengikuti pameran-pameran, penjualan via online, sampai distribusi ke pasar-pasar dan toko-toko. ’’Keinginan kami adalah kopi Kiebae asli Wonosobo ini dapat menjadi oleh-oleh khas Wonosobo,’’ tandasnya.
Berbekal inovasi mengolah buah salak pula, Eko menggerakkan pemuda di desanya. Dia pun menjadi inspirator untuk membuat sebuah gerakan yang dapat memajukan desa. Bukan hanya pemuda, ibu-ibu juga dilibatkan dalam pengolahan kulit salak menjadi bros. Eko juga berinovasi dengan produk lain seperti salak presto, permen salak, dan beberapa produk lain. (*)
jawapos.com
















