BERITA INDEX BERITA

Mengakselerasi PPN Kampung Patani Cimande yang Diresmikan AHY, Hadirkan 1000 Ahli untuk Prabowo Subianto

Nadi Negeri | DiLihat : 130 | Rabu, 26 Juni 2024 | 09:47
Mengakselerasi PPN Kampung Patani Cimande yang Diresmikan AHY, Hadirkan 1000 Ahli untuk Prabowo Subianto

BOGOR – Waktu menunjukkan pukul 00.15 Wib, kala serombongan pria membubarkan diri usai pertemuan malam itu, di salah satu sudut Desa Cimande, Caringin Bogor, Jawa Barat, persisnya di Villa Farm Equil Araya. Raut lelah begitu kentara di wajah para pria yang kemudian terlihat bergegas menuju ke peraduan.

Lokasi Villa Farm Equil Araya yang berupa bangunan bata merah dikelilingi banyak pohon durian dan tanaman produktif lainnya kepunyaan Marsda (purn) TNI Gutomo, itu sebagai Pusat Pengendali (PPN) Kampung Patani. Pada 2020, tempat ini diresmikan oleh tokoh muda Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kini menjabat Menteri ATR/BTN.

Diketahui, sejak Jumat (20/4/2024) petang hingga tengah malam, disambung lagi keesokan paginya, Sabtu (21/4/2024), para pria yang tadi tergabung dalam organisasi Pandu Tani Indonesia (Patani), larut dalam diskusi panjang mengenai program kerja berikut rencana strategis ke depan organisasi tempat mereka berhimpun.

Setelah berdiskusi dan berdebat sengit diseling canda tawa, akhirnya forum kecil itu menyepakati sejumlah poin penting yang menjadi formula untuk memajukan organisasi Patani yang mereka sangat cintai. Salah satunya Patani akan menggelar acara spektakuler bertajuk "1000 Ahli untuk Prabowo Subianto".

1000 ahli yang nantinya terhimpun dalam Klinik Ekonomi Hijau Patani, untuk mengawal astacita presiden terpilih Prabowo Subianto, yang salah satunya menyinggung soal ekonomi hijau (green economyc). Selain menghadirkan 1000 ahli, acara besar yang bakal digelar pada September 2024 itu, juga akan ada pameran, diskusi dan pemaparan atas capaian organisasi Patani selama 15 tahun berkiprah.

Diketahui, saat ini Patani telah memiliki 15 Kanwil dengan 1.200 anggota ditambah anggota komunitasnya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar anggota komunitas Patani berasal dari petani, nelayan dan para pelaku UMKM.

Selain fokus pada program pemberdayaan petani, nelayan dan pelaku UMKM, Patani bersama komunitasnya juga kerap menggulirkan program penghijauan, dengan menanami banyak tanaman produktif di sejumlah lahan kritis di Tanah Air.

Bahkan, pada tahun 2015 silam, atas undangan Patani, Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah memberikan kuliah umum tentang ekonomi hijau kepada mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Berangkat dari kegiatan tersebut, Patani gencar mengembangkan program Kampung Patani di daerah-daerah, dengan Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani di Desa Cimande, Bogor, Jawa Barat.

Tentang Kampung Patani

Sekilas tentang program Kampung Patani yang digagas Ketua Umum Pandutani Indonesia (Patani), Sarjan Tahir, adalah sebuah ide brilian untuk mengeksplorasi dan mengetahui langsung apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat paling bawah. Kelompok masyarakat ini, seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM tentunya butuh perhatian.

Adapun Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani terletak di Desa Cimande, Jawa Barat, berfungsi untuk menghimpun data dan informasi sebagai bahan evaluasi atas kinerja Kampung Patani di seluruh Indonesia. “Konsep Kampung Patani ini menjadi luar biasa dan riil karena dilakukan bersama-sama. Membangun semangat, berkolaborasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Ketua Umum Patani, Sarjan Tahir.

Secara spesifik, Kampung Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut.

Adapun model atau bentuk Kampung Patani disesuaikan dengan kondisi agroekosistem dan kearifan lokal kawasan setempat serta memerhatikan karakteristik, kondisi sosial budaya, dan ekonomi masyarakat setempat.

Ada beragam kriteria Kampung Patani, yakni Kampung Patani berbasis Kehutanan Sosial, Kampung Patani berbasis Perkebunan, Kampung Patani berbasis Tanaman Pangan, Kampung Patani berbasis Tanaman Hortikultura, Kampung Patani berbasis Peternakan, Kampung Patani berbasis Perikanan/Kelautan, dan Kampung Patani berbasis Koperasi dan UMKM.

“Suatu kawasan pedesaaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kelautan, perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan pemasarannya,” papar Sarjan.

Banyak manfaat yang diperoleh pelaku usaha dalam kawasan Kampung Patani, di antaranya bisa meningkatkan produktivitas, dan tersedianya saprodi, pemasaran serta pembiayaan usaha yang difasilitasi oleh Patani melalui Koperasi Indokopat. Petani, nelayan, koperasi dan UMKM dalam kawasan Kampung Patani juga diberi pelatihan sesuai kebutuhan serta terciptanya kawasan usaha agribisnis yang berkelanjutan (ramah lingkungan).

Pada aspek ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan negara.

Adapun aspek sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Sementara di aspek politik, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau oleh giat Kampung Patani.

 

 

 

  


Scroll to top